Kamis, 05 November 2015

Kita Pernah Bersama


Jalinan kasih merintangi kita, dijembatani pandangan mata, terpesona. Senyum manis meningkahi, tersipu. Deguban jantung tak lagi mengikut irama, malu.
Ikrar terucap sumpah setia, benang terjalin, tersimpul megah. Mengusung diri atas nama cinta, hari-hari terlewati dengan buaian indah.
Kau, aku sama berjanji.
Menjaga indahnya diri hanya pada yang terkasih. Bersolek paras teruntuk satu hati. Tiada kesempatan bagi mereka, biarkan tersisih. Tidak kan terpesona megahnya duniawi. Tak akan tergoda kilauan yang membuat risih.
Satu cinta, satu tubuh. Satu kemolekan yang utuh. Hanya aku, kamu yang boleh menyentuh. Tiada sebarang mata dan tangan boleh berlabuh. Alunan asmara yang begitu memesona, membuatku kamu kian terlena. Seolah tiada lain orang kecuali kita berdua. Berharap ini untuk selamanya.
Ahh, memang pernah…
Tiada yang abadi kecuali perubahan. Sekuat apa pun menaut tetap tak tertahan. Yang menyambangi kita di tengah jalan. Kau berdiam diri seakan ini suratan. Kulikat berubah hanya sesaat. Tiada pernah masuk semua nasihat. Padahal kata ingin mencapai mufakat. Ke mana semua janji yang pernah kita ikat?
Setiap ucapan berhias emosi diri. Selalu saja ego yang menguasai. Tiada pernah bertemu indahnya jalan. Hanya makian yang semakin membuat kita berjauhan.
Lama kutunggu adanya perubahan. Masih kujaga tali yang tersimpul. Namun keinginan tiada kesampaian. Terpaksa diri menyisi, melepas buhul.


TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

0 komentar:

Posting Komentar