Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016

Sumpah ini Pemuda

Sumpah ini Pemuda



“Kau tidak bosan?”
       “Bosan?” Maun terkekeh, mungkin baginya akulah yang harus di-tertawa-i. “Bagaimana mungkin kau mengharap perubahan bila kau selalu terbentur kata; bosan?”
             “Haah, sudahlah,” sanggahku, seperti biasa Maun pasti akan mengeluarkan jurus ceramahnya padaku. “Aku mau berangkat kerja dulu, waktu makan siang sudah usai, nih.”
          Kutinggalkan Maun begitu saja, aku sangat yakin jika dia pastilah menatap punggungku dengan menggelengkan kepala, plus gurat senyum di bibirnya yang menghitam.
Maun adalah sahabatku sedari STM dulu. Hanya saja, ia tidak seberuntung teman-teman yang lain. Sepertiku. Mendapat pekerjaan yang layak, gaji yang tetap—bahkan bila kau bagus, bisa lebih daripada itu. Tapi… dia berbeda. Yaa, aku tidak bisa mengacuhkan itu, Maun pernah beberapa kali mendapat pekerjaan—sebut saja sesuatu yang layak daripada yang sekarang. Entahlah, hanya beberapa bulan saja, dan ia memutuskan keluar dari pekerjaannya.
Kau mungkin akan membalikkan ucapannya. Soal, bosan tadi. Tapi Maun selalu punya alasan untuk berkilah. Yang paling sering ia gunakan; “Rasanya ada yang tidak beres.” Entah apa pun itu artinya, aku sendiri juga tidak mengerti. Dan di sanalah dia, sehari-hari membersihkan sungai yang tak lagi bisa disebut sungai. Sudah dua tahun Maun melakukan itu, dan aku tidak melihat ada perubahan sama sekali. Maksudku, soal kehidupannya. Yaa, meski ada upah yang ia terima dari pemerintah setempat, tapi menurutku itu terlalu kecil dari tenaga dan usaha yang ia keluarkan.
Sudahlah, kutinggalkan saja dia dulu. Ada hal yang harus kupikirkan—dan lebih utama—laporanku kepada atasan. Hahh, malas sekali rasanya kaki ini untuk melangkah.

*

“Bagus, ketawai aja terus…!” dengusku, dan melampiaskan emosi di diri pada jus jeruk di dalam gelas. Ludes.
Maun tak jua mau berhenti tertawa, menyesal juga rasanya aku menceritakan kejadian siang tadi padanya. Maksudku, soal laporanku pada atasan di kantor. Hahh, apa yang bisa kulakukan? Atasan tidak menerima laporanku dengan baik, kadang aku berpikir apa dia tidak bisa melihat dari sisi diriku. Capek gitu lhoo… dan itu tidak dihargai? Waoow… Terlalu banyak kesalahan, begitu kata atasanku, dan yaa kau bisa membayangkan dia berujar sambil menghempaskan setumpuk kertas itu ke atas meja, tepat di hadapanku.
“Kau itu berangkat pagi—rapi lagi, pulang udah malam… kusut pula,” sahut Maun, dan itu menjengkelkan. “Kerja, apa dikerjain?”
Hahh, aku tidak ingin  menanggapi pertanyaan itu, bisa-bisa kehilangan kontrol diri. Yang bisa kulakukan, hanya meremas rambut, biar pada rontok atau botak sekalian.
“Lupakan itu,” ujarku sesaat kemudian, “Kau tidak mau kerja yang lebih baik?”
“Seperti dirimu, itu?!”
“Berengsek…!” lihat, begini saja sudah membuatku kesal nih cowok satu. “Maksudku, kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekadar membersihkan kotoran sungai. Kau tidak perlu mencontohku,”
“Baiklah, akan aku turuti ucapanmu,” Maun menyeringai, “Terus, siapa yang bakal membersihkan sungai-sungai itu?”
“Heehh, capek ngomong ama kamu,” dengusku lagi.
Maun tertawa lagi. Entah apa yang ada dalam tempurung kepalanya itu. Maun sendiri bukanlah orang bodoh, maksudku, dulu dia adalah anak yang pintar—aku serius. Jadi kami pikir—paling tidak aku sendiri—dia pasti bisa menemukan pekerjaan yang cocok, yang sangat ia sukai untuk menyokong perekonomiannya sendiri.
“Kau tidak terpikirkan untuk mengumpulkan… entahlah, biaya mungkin. Kau pasti ingin memiliki istri bukan, keluarga kecilmu sendiri?”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu, plus sepasang alis yang mengerut aneh, membuatku tidak bisa memarahinya. Dan lagi, apa urusanku? Maun hanya teman, dan sebagai teman aku tentu hanya bisa memberi saran terbaik, sesederhana itu.
“Ayolah, aku serius,” ujarku mengalah.
“Kau pernah punya mimpi?”
Aku mencibir menanggapi pertanyaan itu, tidak relevan, begitu pikirku untuk seusia kami. Lain hal bila kau masih kecil, unyu-unyu… Maun tertawa lagi. Apa pun masalahnya, dia selalu tertawa seperti itu. Mengesalkan.
“Aku punya,” ujarnya melanjutkan ucapan. “Punya istri, punya anak lucu-lucu. Pagi lari bersama menghirup kesegaran alam. Sore bercanda ria di tepian sungai mengalir bening—“
“Jadi…” aku memotong ucapannya, tahu pasti ke mana perginya itu. “Kau akan berkata; Lantas bagaimana aku akan menikah dan punya keturunan jika alam tak sesegar yang dibayangkan, dan sungai tak sebening yang diharapkan. Begitu?”
Maun mengangguk, dan menghadirkan senyum teramat manis—menurutku—yang belum pernah kulihat selama ini.
“Kau gila!” dengusku. Entahlah, aku tidak tahu apa yang tengah kurasakan. Kecewakah? Marahkah? Atau justru senang mendengar impian konyol itu? “Kau terlalu naif, sobat… terlalu naif.”

*

“Apa itu?”
Aku bisa melihat banyak kerutan di jidat Maun yang hitam tersengat mentari itu. Aku… entahlah, mungkin naif seperti dia.
“Naiklah, dulu…!” teriakku kepadanya.
“Kenapa kau terlihat berbeda?”
Haha, sukar untuk menyembunyikan itu dari mata Maun. Ia keluar dari dalam sungai, yaa kotor dan bau. Bau dari sampah-sampah orang-orang yang merasa suci dan memiliki kota ini.
“Kau tidak sedang mengigau, kan?”
“Berhentilah menggodaku, pemuda berengsek!” dengusku meski senyum tak pernah pupus di bibirku. Kuserahkan bungkusan itu padanya, juga sekotak makanan untuk makan siangnya. “Sudah kuputuskan—“
“Apa itu?” potong Maun, “Ahh, akhirnya… kau mau juga menjadi istriku,”
“Jangan seenaknya memotong ucapan orang!” dan sial, Maun justru tertawa kencang menanggapi jeritanku. Aku merasa wajahku tebal, begitu tebal, pandangan beberapa orang yang berlalu lalang begitu aneh di mataku. “Aku… sebut aku naif, tapi aku banyak belajar darimu. Yaa, sudah saatnya kata; bosan, kuhapus dari kamus dalam kepalaku. Itu saja,”
Untuk pertama kalinya di mataku, Maun tidak banyak bicara seperti yang sudah-sudah. Dia hanya memandangiku, bungkusan dan kotak makanan di tangannya yang kotor berlumpur. Dan senyum indah seperti semalam.
“Aku, keluar dari pekerjaanku. Kuputuskan untuk pulang ke kampung saja. Kau benar, sobat. Masih banyak hal yang bisa dilakukan anak muda seperti kita. Masih banyak…”

*

Di kampung tidak banyak yang bisa kukerjakan. Yaa, bukan berarti tidak ada yang bisa kukerjakan. Ada kok. Aku menerapkan ilmu semasa kuliah dulu di sini. Mengumpulkan beberapa anak-anak yang putus sekolah dan yang tidak pernah mengecap pendidikan, mengajar mereka dua hal ilmu yang penting—menurutku. Mengenal tulisan, dan berhitung. Tidak ada yang membayarku, kecuali orang tua dari anak-anak tersebut. Lucu sekali, dan itu lebih banyak dengan berbentuk barang. Kau tahu yang kumaksud? Seikat sayuran, ikan, atau apalah itu yang menjadi mata pencarian mereka.
Yaah, memang tidak banyak yang bisa kulakukan. Naif sekali. Aku tersenyum sendiri, separti apa jika Maun si pemuda berengsek itu melihatku di sini. Hahaha… lupakan saja.

Waktu bergulir begitu cepat. Dua tahun sudah aku berada di kampung halaman. Satu hal yang selalu menggelitik rasa ingin tahuku; bagaimana keadaan Maun sekarang? Jadi, kuputuskan untuk kembali ke Jakarta. Sudah lama rasanya tidak mendapat kabar dari dia. Hmm, terakhir setahun yang lalu.

*

Aku menemukan dia di tempat yang sama, seperti dulu. Maun masih setia pada sungai itu. Tidak ada yang berbeda, kecuali rambut yang sedikit gondrong dan kulit tubuh yang semakin mirip batu pualam. Satu lagi, ada empat orang lainnya yang sekarang membantu Maun membersihkan sungai itu.
Lama aku memandanginya sebelum ia menyadari kehadiranku. Dan sungguh, senyuman manis di bibir menghitam itulah yang kunantikan. Maun merangkak ke tepian.
“Haaa, bagaimana?” sahutnya tanpa rasa grogi sama sekali, maksudku sudah terpisah dua tahun, basa-basi dulu kek, apa kek. Menyebalkan. “Kau sudah memutuskan untuk menjadi istriku?”
Entah kenapa, kali ini aku tidak memaki sebagaimana dulu-dulu itu. Aku terkekeh menanggapi ucapannya.
“Sudah lama juga, ya?” ujarnya lagi. “Aku sih, sebenarnya pengen meluk kamu, gitu. Tapi… ya kamu lihat sendiri, kan?”
Lumpur bau masih menempel mesra di tubuhnya. Hahaha, sudah pasti aku akan menolak.
“Aku, hanya ingin mengatakan satu hal padamu, Maun,” kutatap dalam kedua matanya.
“Kau boleh mengatakan apa pun yang kau mau,”
“Aku serius… aku, juga memiliki mimpi yang sama!”



Ando Ajo, Jakarta 09 Agustus 2016.

Senin, 16 November 2015

Ngik-Ngik-Ngik


Hai, Nyet!
Oops… ngik-ngik! Lupa!
Iya, kita sama-sama monyet!
Ngik-ngik-ngik…
Hei-hei-hei… lihat tuh!

Nah, bener yang ini!
Iya, aneh ya ngik-ngik-ngik…
Nipuin sesama manusia ngik!
Gondol emas… wiih! Duit segepok!
Apa…? Empat bulan?????????
Ngik-ngik-ngik… cabul juga?
Ngik-ngik, sama kek kamu juga ngik!
Ngik-ngik-ngik… aku juga!

Lhaa yang ini juga parah ngik!
Ngumbar kemaluan ke mana-mana!
Ngik-ngik-ngik, pura-pura gila????
Sama! Iya… sama kek kamu juga ngik!
Ngik-ngik-ngik… aku juga!
Nah itu ngik! Iya… yang itu!
Mateni dua nyawa lhoo ngik!
Iya… empat bulan juga!
Ngik-ngik-ngik, sakit? Kooperatif?
Ngik-ngik-ngik, gila! Karena kuliah di luar negeri?

Di sini lebih adem ngik!
Lihat tuh! Matahari! Menyegat tau!
Iya, berlindung, biar aman!
Ngik-ngik-ngik…
Eeh, kenapa ngik!
Tawamu kek manusia itu!
Ngik-ngik-ngik… aneh!
Masak monyet kena asma!
Monyet mah, bawanya HIV, ngik-ngik-ngik…

Kamu benar ngik!
Lebih enak jadi monyet ngik-ngik-ngik…
Iya, aku serius ngik!
Nyuri buah apa aja gak ketangkap!
Ngik-ngik-ngik
Iya, buah pisang, ngorek singkong ngik-ngik!
Eeh?? Kau gila ngik! Ngik-ngik-ngik
Segitunya?
Nyuri buah lainnya? Seperti manusia itu?
Waah… ngik-ngik-ngik
Iya juga ya, kamu benar!
Dari buah jeruk ampe buah dada
Buah peti juga, ngik-ngik-ngik… buah dalam celana?
Ngik-ngik-ngik kau gila!
Ngorek ibu bumi, ladang orang…
Ngik-ngik-ngik, ngorek dalam rok?
Kau gila!

Naik lagi ngik! Lebih tinggi!
Tuh lihat! Si gajah! Si pengadil rimba!
Weee… ngik-ngik-ngik
Badan gede gak bisa apa-apa!
Ngik-ngik-ngik…
Gading panjang sangar tapi tumpul, ngik-ngik-ngik!
Belalai panjang tapi impoten!
Ngik-ngik-ngik, ngeludah ke mana-mana!

Ayoo ngik, kita kabur ngik!
Ngik-ngik-ngik…
Biarin si gajah nyari kambing gunung!
Eeh, salah! Ngik-ngik-ngik…
Kambing hitam
Ngik-ngik-ngik…


TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Minggu, 08 November 2015

Kwek-kwek-kwek


Hai juga kwek!
Ada apa dengan bulu punggungmu?
Kwek…
Sama!
Kau lihat kwek, sayapku! Kena genangan minyak, kwek!
Aku serius!
Yaah… benar! Jadi tidak bisa terbang! Kwek-kwek-kwek…
Sarang kita gak hijau lagi, kwek! Iya kwek!
Kuning berkabut… kwek!
Si Punai? Iya kau benar kwek! Ia sudah pindah…
Kwek-kwek-kwek… si Kuntul juga kwek!
Eeh iya, si Puyuh masih terlihat kwek, lusa!
Si Bangau?
Eeh?! Kwek-kwek-kwek… dia juga pindah!
Mau bagaimana lagi?
Hijau lenyap, kwek… berganti kuning kering kerontang, kwek-kwek!
Lihat aja tuh kwek! Rig besi turun-naik!
Iyaaa… sama persis mainan bocah TK anak manusia itu!
Kwek-kwek-kwek…
Kasihan ibu bumi ya, kwek! Disedot terus…
Pasti harta mereka melimpah tuh, kwek!
Kwek-kwek-kwek… tapi,
Katanya gajinya gak cukup kwek!
Makanya sedot terus kwek…
Kwek-kwek-kwek… sedot istri?
Kau gila! Kwek-kwek-kwek…
Kau benar! Hiks… kwek! Sungai ini gak jernih lagi!
Tertutup minyak kwek! Kotoran!
Apa…?
Kwek, kau serius? Pindah juga? Meninggalkanku?
Kwek… hiks, sayapku berlumuran minyak, kwek!
Kau lihat! Aku tidak bisa terbang!
Kwek, jangan pergi!
Kwek...!

TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Sabtu, 07 November 2015

Celoteh si Pipit


Hei teman!
Wah… kau rajin sekali, mengutip lembar ilalang.
Tidak begitu baik, kamu?
Aneh! Yang mana?
Hoo… itu! Kamu benar, aneh!
Manusia itu memang aneh. Digiring Polisi, KPK…
Dia masih tersenyum, sumringah.
Kamu benar! Dia memang aneh!
Lihat!
Dia melambaikan tangannya… ha-ha-ha.


Pindah! Baiklah…
Nah, kita di sini saja!
Hei-hei-hei… lihat itu!
Ck ck ck, hancur! Remuk tuh muka!
Kasihan juga.
Ahh… serius?! Cuman sendal? Sepasang sendal?
Woow…


Di sini lebih asyik… ya di sudut sini!
Lihat tuh!
Berapa tahun?
Eeh… setahun! Untuk sebatang singkong, setahun?!
Astaga! Kasihan sekali nenek itu!
Aku tidak kuat di sini, pindah ke sana saja!


Nahh… di sini lebih nyaman.
Eeeh… benar! Aku juga melihatnya!
Gimana kalo hujan lebat? Banjir?
Dua bocah itu bisa tenggelam, kan?
Kenapa? Ha-ha… kau jangan bercanda!
Mereka itu yatim!
Terpaksa tidur di dalam parit!

Sudahlah… di sini saja!
Wooow… lihat!
Benar, sepertinya begitu!
Enak sekali makan mereka…
Kau gila! Ingin menjadi manusia?
Wahh, benar juga! Bisa makan enak! Padahal dalam penjara!
Hebat! Ada televisinya juga! Wiiih… lemari pendingin!
Mana? Yang mana?
Hoo… kasihan ya! Dia juga dalam tahanan. Tapi hampa!
Apa??? Salah tangkap katamu!?
Woow…


Sudahlah, kita pergi saja!
Antarkan ilalang kering ke istrimu!
Iya… aku juga!
Lebih baik memintal benang, bikin sarang!
Iya bocor sih, kurang serat ilalang.
Baiklah! Salam juga untuk keluargamu!

***
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK EMNGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Ada dan Tiada


Ada karena tiada
Tiada karena ada
*
Telah diadakan kesempurnaan jalan
Dalam rentang waktu tak berbatasan
Hanya ajal jadi patokan
Mengapa tak berebut dalam kebaikan?
Ditiadakan keindahan pada sisi berlainan
Agar paham pedihnya siksaan
Tiada rasa iba kasihan
Mengapa bengis menjadi pilihan?
***
Ada karena diadakan
Tiada karena ditiadakan
*
Anak manusia terlahir bernama insan
Insan terlahir dalam doa harapan
Penuh keinginan
Dalam hal perubahan
Namun perubahan tak serupa angan
Mengadakan yang telah ditiadakan
Meniadakan yang telah diadakan
Cukupkah dengan dosa penyesalan?
***
Ada mendampingi ketiadaan
Tiada mendampingi keadaan
***

TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK EMNGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Kamis, 05 November 2015

Aku... Bingung


Kagumku tiada pernah habis, pada negeri nan elok. Rasa cintaku tak akan terkikis, pada damai alammu yang kian terseok.
Kupaksakan kaki melangkah riang, menikmati sejuknya danau telagamu. Senyum miris mengembang, meski terusik sampah di keruhnya airmu. Dengarkan tawa renyah anak-anak berenang, canda gelut di bawah lazuardi membiru. Langkah-langkah kaki lincah di antara rumput ilalang. Seakan tiada beban pada hidup yang mengharu, saru.
Aku… benar benar terpesona. Pada rindangnya belantara yang mengungkung, meski di tengah telah botak tandus merana, ulah tangan berselip niat terselubung.
Aku… bingung.
Benar! Mereka ceria dalam canda tawa, meski tubuh kurus ceking melengkung, meski tiada pasti nanti nasib mendera. Setidaknya… cobalah merenung!
Abadikan semua canda tawa! Jangan lagi mengurus perut buncitmu melembung, pandanglah ke bawah meski tidak lama. Dan kau, akan menemukan retaknya cembung.
Aku… bingung.
Pemimpin sibuk “menabung”. Rakyatnya pula tak peduli langsung. Eksotis pertiwi kian terkatung-katung.
Aku, benar benar bingung. Seperti hujan tak jadi meski mendung pekat menggantung
Tidakkah aku kau kalian merasa sayang? Eloknya panorama yang terpampang, segar bening danau telaga yang tenang, hutan belantara subur merindang, bahari membiru sejauh mata memandang, tidakkah merasa sayang, bila semua itu raib menghilang?
Musnah sengaja dibuang, pada acuh sikap aku kau kalian tak sudi memandang. Dan… hanya akan menjadi tembang, di kala nanti generasi mendatang, dongeng si buyung kala tidur menjelang, tenta satu negeri yang dulu indah terkenang.
Aku bingung dan terdiam, dalam hening riam, negeriku… terancam.


TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAPPOSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Jumat, 27 Februari 2015

Pekik Camar

Pekik Camar


dengarkan suara ombak
bergulung… masih teratur ke tepian
menghempas berserak
berbuih plastik kotoran
dengarkan pekik camar berduka
ke mana pantai indah bermega
di mana hilang buih pesona
kenapa tega
-
biru tak lagi menggebubu
hijau pun tak lagi meranai
ke mana lagi mencari kasih ibu
tersisa kepedihan hias menginai
-
pak nelayan hei…
ke mana engkau mengais rezeki
di mana jaring engkau tabur
masih kuat joran terukur
ayah yang dicinta berangkat dengan sampan kecilnya
jauh… jauh… hingga ke tengah samudera
sebab tepian tak lagi bisa berkata
namun tiada pernah pulang kembali di ujung senja
-
hei nak… pandanglah langit
kepalkan tangan
jangan mengernyit
runtuhkan tak acuh badan
hentikan menjerit
tidak berguna tiada berpadan
-
mentari di kaki langit merah tembaga
namun bayang tak lagi pernah serupa
samudera pasrah kelam melanda
seakan ikut rasa derita

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIAN.COM, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber ilustrasi; http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/04/13346738851621474777_300x231.6.jpg

Rabu, 25 Februari 2015

Di Ujung Tanduk

Di Ujung Tanduk


Alamku gersang
Hutanku hilang
Rimbaku kerontang
Ke mana diri akan pulang?
-
Tiada lagi dahan juga ranting
Tempat kami bernaung di terik mentari
Tiada lagi dedaunan rimbun menghalang pandang
Pelindung dingin menusuk kala hujan menyirami
…hanya selembar daun kering
Untuk diri
-
Tiada lagi wangi nektar di ujung ranting
Putik mewarna di tiap tampuk batang
-
Ke mana lagi mencari makan?
Mendekat sedikit saja diri disingkirkan
Satu peluru saja cukup menghentikan
Kenapa tega membidik hingga puluhan?
-
Katakan pada kami
Apa keinginan kalian?
Teriakkan pada ibu bumi
Kuasai semua yang kalian inginkan
Siratkan pada Ilahi
Tantanglah ketetapan
-
Tidakkah cukup semua tindakan?
Tidakkah terpenuhi segala keinginan?
Cukup cukuplah sudah tolong hentikan
Jangan hancurkan kehidupan hutan
-
Tidakkah kalian berpikir lagi?
Apa jadinya ibu bumi tanpa kami?
Bahkan jika cacing dimusnahkan
Ibu bumi tiada akan bertahan
-
Tidakkah kalian sadar?
Tanpa kalian ibu bumi tetap bertahan
Selamanya…
-
Nasib kami di ujung tanduk
Masih adakah yang lebih buruk?

***
Hasil penelitian mengatakan; jika seekor cacing saja dimusnahkan dari muka bumi, maka bumi hanya akan bertahan untuk seratus tahun. Namun bila manusia yang dimusnahkan, maka bumi akan bertahan selama-lamanya.
So… sobat, think about it!
#GreenPeace #SaveAnimalLive #SaveIndonesianWildLive
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENCANTUMKAN URL POSTINGAN DI ATAS DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGHAPUS/MENGEDIT AMARAN INI.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
sumber ilustrasi; http://ecoteerresponsibletravel.com/wp-content/uploads/2012/09/Orangutan-Pygmy-elephant-conservation.jpg 

Minggu, 15 Februari 2015

Kwek-Kwek-Kwek

Kwek-Kwek-Kwek


Hai juga kwek!
Ada apa dengan bulu punggungmu?
Kwek…
Sama!
Kau lihat kwek, sayapku! Kena genangan minyak, kwek!
Aku serius!
Yaah… benar! Jadi tidak bisa terbang! Kwek-kwek-kwek…
Sarang kita gak hijau lagi, kwek! Iya kwek!
Kuning berkabut… kwek!
Si Punai? Iya kau benar kwek! Ia sudah pindah…
Kwek-kwek-kwek… si Kuntul juga kwek!
Eeh iya, si Puyuh masih terlihat kwek, lusa!
Si Bangau?
Eeh?! Kwek-kwek-kwek… dia juga pindah!
Mau bagaimana lagi?
Hijau lenyap, kwek… berganti kuning kering kerontang, kwek-kwek!
Lihat aja tuh kwek! Rig besi turun-naik!
Iyaaa… sama persis mainan bocah TK anak manusia itu!
Kwek-kwek-kwek…
Kasihan ibu bumi ya, kwek! Disedot terus…
Pasti harta mereka melimpah tuh, kwek!
Kwek-kwek-kwek… tapi,
Katanya gajinya gak cukup kwek!
Makanya sedot terus kwek…
Kwek-kwek-kwek… sedot istri?
Kau gila! Kwek-kwek-kwek…
Kau benar! Hiks… kwek! Sungai ini gak jernih lagi!
Tertutup minyak kwek! Kotoran!
Apa…?
Kwek, kau serius? Pindah juga? Meninggalkanku?
Kwek… hiks, sayapku berlumuran minyak, kwek!
Kau lihat! Aku tidak bisa terbang!
Kwek… jangan pergi!
Kwek!
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
let'sgo green, save our world, green peace
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------