Selasa, 08 Agustus 2017

Fantasytopia 2 - Pulau Larangan dan Si Iblis Putih


Ini merupakan novel kedua penulis^^, sekaligus sekuel dari novel pertama; Fantasytopia.



Penerbit Jentera Pustaka

Fantasytopia - Pulau Larangan dan Si Iblis Putih
Penulis: Ando Ajo

Editor: Sekar Mayang
Layout: Liez Ardian
Cover: Domels

Versi Cetak bisa diorder ke: jentera.pustaka@gmail.com

Versi Digital tersedia di:

- http://www.gramedia.com/conf-fantasytopia-pulau-larangan-dan-si-iblis-putih.html
- https://play.google.com/store/books/details/Ando_Ajo_Fantasytopia_Pulau_Larangan_dan_Si_Iblis?id=DGOZDQAAQBAJ
- https://books.google.co.id/books/about/Fantasytopia_Pulau_Larangan_dan_Si_Iblis.html?id=DGOZDQAAQBAJ&redir_esc=y

Juga tersedia di; www.wayang.co.id serta; www.getscoop.com/id



Sinopsis


Delapan tahun sudah “Sang Pemanggil” bersemayam di dalam dada Ahmad, sebuah pusaka Kerajaan Elfunity yang berwujud cincin emas, dan selama itu pula tidak sekalipun digunakan Ahmad, bahkan terpikir pun tidak. Hingga terjadi perselisihan antara Ahmad, Silva, dan Danny.
Silva yang sebelumnya adalah pacar Ahmad, berpaling hati pada Danny yang lebih kaya. Danny yang merasa di atas angin menantang Ahmad untuk berduel. Pada saat itu lah Sang Pemanggil memperlihatkan kemampuannya, mengejutkan semua orang yang ada di tempat kejadian tersebut.
Shock akan kejadian perselisihan itu, membuat Ahmad lebih sering melamun. Ia berusaha menghindar dari Silva juga Danny, bahkan di sekolah sekalipun. Kejadian itu juga semakin memperdalam kerinduan Ahmad pada sahabat-sahabatnya di Kerajaan Elfunity di dunia yang berbeda.

Gayung bersambut. Pertemuan kembali dengan Johan si petugas kepolisian adalah awal langkah Ahmad untuk bisa memasuki dunia peri.
Johan dan istrinya yang tengah hamil bermaksud akan pulang ke Sumatera, mereka menyarankan Ahmad untuk berlibur, menenangkan diri, sebab mereka menduga Ahmad tengah galau, selalu bermuram durja. Ahmad menyetujui saran tersebut, begitu juga dengan kedua orang tuanya, Pak Wardiman dan Bu Asih.
Di bandara, Ahmad juga Johan dan istrinya bertemu dengan Krisna yang juga adalah anggota kepolisian. Setelah berbasa-basi, Krisna meneruskan tujuannya ke Bali dengan menggiring seorang gembong narkoba. Sementara Ahmad, Johan dan istrinya tetap di bandara menunggu keberangkatan mereka masing-masing. Johan dan istri akan mengambil penerbangan ke Sumatera Utara, sementara Ahmad dengan tujuan Sumatera Barat.

Saat memasuki kabin pesawat, Ahmad merasakan satu firasat, sebab kabin yang luas hanya ditempati oleh belasan penumpang saja. Namun penjelasan sang pramugari yang mengatakan; pesawat harus berangkat tepat waktu, itu sedikit melegakan pikiran aneh dalam kepala Ahmad.
Ahmad ternyata duduk bersebelahan dengan seorang gadis seusianya yang sebelumnya sempat ia lihat saat di lobi tunggu keberangkatan di bandara. Perkenalan dan pembicaraan singkat dengan gadis bernama Anjha tersebut kembali mengingatkan Ahmad akan negeri Elfunity. Di kala pesawat akan lepas landas Ahmad merasa mengalami de javu, melihat lagi kakek bercaping yang delapan tahun silam seolah menitipkan Sang Pemanggil padanya. Namun Ahmad tidak bisa berbuat banyak, tidak mungkin ia menghentikan laju pesawat.
Lelah berpikir, Ahmad tertidur selama perjalanan itu, bahkan bermimpi bertemu dengan sahabat lain alamnya. Mimpi menakutkan seolah firasat pada satu kenyataan, hingga Ahmad terbangun ketika pesawat mengalami masalah pada keempat mesinnya. Pesawat jatuh menghempas ke permukaan laut.

Sementara itu, Kerajaan Elfunity kembali didera prahara. Zupaelf yang adalah kerabat dekat istana melakukan kehebohan. Dengan menyandera Ramelf, si Peri Kupu-kupu yang mampu membaca aksara kuno. Zupaelf memanfaatkan kelebihan Ramelf tersebut untuk melaksanakan niatnya; melepaskan segel kutukan yang mengungkung Na’ag Ranck alias Si Iblis Putih.
Siksaan demi siksaan masih sanggup ditahan Ramelf, namun dengan licik, Zupaelf juga menyiksa adik laki-laki Ramelf, sehingga mau tidak mau Ramelf terpaksa menuruti perintah Zupaelf; melepaskan segel sang iblis yang dahulu kala pernah memorak-porandakan kehidupan di Elfunity.
Si Iblis Putih terlepas, dan kekacauan sekali lagi melanda negeri tersebut, bahkan memaksa ordo Bayldan untuk bertindak, sebab ketenangan kaum mereka di Pulau Larangan menjadi ikut terancam.
Ratu Elfunity meminta bantuan kepada para Bayldan, juga kepada ordo Centaur yang beberapa orang dari kaum mereka telah menjadi korban keganasan sang iblis. Namun, hanya ordo Centaur yang dengan senang hati menyambut permintaan sang ratu, sedangkan para Bayldan menolak mentah-mentah, sebab perselisihan yang terjadi antara leluhur Bayldan dan leluhur Elfunity ribuan tahun sebelumnya, telah menjadikan para Bayldan kurang simpatik terhadap negeri yang terancam malapetaka tersebut.

Kekacauan terus merambat hingga jauh ke barat dari negeri Elfunity. Tak disangka, Ahmad dan Anjha yang sebelumnya mengalami kecelakaan dalam penerbangan, dibawa arus laut ke sebuah pulau misterius, Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya.
Di pulau tersebut, Ahmad dan Anjha mengalami petualangan aneh sekaligus mendebarkan. Bertemu Peri Sungai yang cantik namun ternyata sangat buas. Dikejar-kejar makhluk setengah serigala, bahkan bertemu dengan manusia-manusia harimau.
Johan yang bermaksud mencari keberadaan Ahmad bersama dengan sejumlah Tim SAR dan relawan, justru mengalami kecelakaan dan tercebur ke dalam laut tanpa seorang pun yang mengetahui. Arus bawah laut menghanyutkan Johan, hingga terdampar di pantai Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya.

Zupaelf yang bermaksud memanfaatkan kekuatan sang iblis, justru mendapat penolakan dari sang iblis sendiri. Sang iblis melemparkan Zupaelf ke tengah lautan, berikut dengan Ramelf dan adik laki-lakinya. Setelah menghabiskan tenaga berenang mencari daratan, Zupaelf pun mencapai sebuah pulau. Pulau yang sama di mana beradanya Ahmad dan Anjha, juga Johan.
Pihak Istana Elfunity yang geram dengan perbuatan Zupaelf, mengutus seratus prajurit memburu wanita tersebut hingga ke Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya, tanpa mereka ketahui jika di pulau tersebut hidup keturunan Leluhur Putih.
Pihak istana dibuat gempar, terutama sang ratu dan sang pangeran. Dari mulut Nazarage, mereka mengetahui jika Zupaelf ternyata adalah anak pertama dari raja sebelumnya. Dan kekagetan pihak istana kian bertambah, bahkan berubah menjadi kecemasan di kala pemimpin Bayldan memberitahukan sebuah rahasia, yakni; keturunan Leluhur Putih juga bermukim di Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya. Kecemasan sang ratu sangat beralasan, mengingat Leluhur Putih yang berasal dari tanah yang sama, mungkin masih menyimpan dendam. Dendam pada anak-keturunan raja-raja Elfunity, sebab leluhur Elfunity telah mengusir mereka.

Tanpa dapat dicegah, pertempuran terjadi di pulau tersebut, akibat keteledoran prajurit Elfunity yang menghancurkan makam kuno yang sangat dihormati penduduk Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya.
Bahkan rombongan kedua prajurit Elfunity yang dipimpin langsung oleh sang pangeran juga terlibat pertempuran itu. Padahal mereka bermaksud untuk melerai pertikaian yang terjadi hanya karena kesalahpahaman.
Sebelum pertempuran itu semakin meluas dan berubah menjadi perang besar, dua orang keturunan Leluhur Putih datang menghentikan pertikaian tersebut. Mengingat kekuatan tempur keduanya, tidak seorang pun yang berani membantah. Bahkan bangsa manusia-harimau yang buas pun tidak berani menantang mereka.
Pertempuran dapat diredakan, dua Leluhur Putih meminta pertanggungjawaban pihak Elfunity akan kehancuran yang terjadi. Sang pangeran menyanggupi itu, pesan sang ratu padanya; jika memungkinkan, membawa kembali Leluhur Putih ke Negeri Elfunity.
Emosi prajurit Elfunity kembali terpancing tatkala melihat keberadaan Zupaelf di antara Leluhur Putih. Namun keinginan mereka untuk menangkap Zupaelf mendapat hadangan dari kedua Leluhur Putih tersebut.
Sang pangeran yang sudah mengetahui jati diri sebenar dari Zupaelf, meminta wanita tersebut untuk kembali ke Elfunity. Namun Zupaelf menolak dengan sikap serbasalah. Tidak seorang pun yang tahu, jika Zupaelf adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Ibu Suri. Saat kenyataan itu ia utarakan, sontak kembali membangkitkan amarah pihak Elfunity. Lebih-lebih sang pangeran sendiri. Namun, setelah Zupaelf membeberkan kebenaran atas kejadian tersebut, barulah semua orang memahami apa yang telah diperbuat Zupaelf.

Ketegangan telah dapat ditenangkan. Semua kekusutan telah diurai dengan manis. Bahkan sang iblis pun dapat dijinakkan, berakhir menjadi penjaga wilayah Elfunity. Namun, keinginan pihak Elfunity agar Leluhur Putih bersedia tinggal di istana ditolak oleh kedua leluhur tersebut, mereka lebih memilih tetap tinggal di Pulau Yang-tak-disebutkan-namanya.
Begitu juga dengan Ahmad, Anjha, dan Johan. Selama tiga hari mereka menghabiskan waktu berada di lingkungan istana para peri tersebut. Dan kemudian, mereka harus kembali ke dunia mereka sendiri. Untuk kedua kalinya Ahmad harus berpisah dengan sahabt-sahabat lain alamnya tersebut. Waktu tiga hari terasa belum cukup untuk melepas kerinduannya pada mereka.

Datang lewat air, pulang pun melewati jalan air. Ahmad, Anjha, dan Johan di antar “pulang” dengan menggunakan perahu. Di tengah lautan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang dengan harus melewati terowongan air.
Sekali lagi arus bawah laut memberikan peranannya. Saat mereka bertiga mencapai permukaan laut, mereka telah berada di tengah-tengah laut dengan sebuah perahu karet sebagai sarana keselamatan mereka. Hingga, mereka “ditemukan” oleh nelayan setempat.
Ahmad kembali dengan selamat dengan satu kenangan manis, yang ia tahu, ia tidak akan meyesal karenanya; mengenal gadis bernama Anjha tersebut.

Sedangkan Johan, kepulangannya disambut tangisan bayi laki-laki yang baru dilahirkan sang istri. Tidak ada yang lebih membahagiakannya dari itu. Bertemu kembali istri tercinta, dan menggendong buah sang buah hati.


---o0o---


ISS-45. When the Terra Going Down

Meninggalkan Bumi (bagian 2)


“Selamat tinggal—“ gumam Dharma setengah tak terdengar, ia tujukan pada sang penguasa tambun yang diselimuti kepulan debu, lewat monitor di hadapannya,. “—babi gendut.”
Tiba-tiba teriakan Hyker memenuhi ruang kokpit. Teriakan yang mewakili perasaannya, juga perasaan semua mereka yang berada di dalam Spaceship 45 tersebut. Kegembiraan. Teriakan yang akhirnya sambung menyambung dari satu mulut ke mulut lainnya, bahkan hingga ke palka di mana Ryan dan yang lainnya berada.
Aldi mengedipkan sebelah matanya pada Ely, menegaskan janjinya sebelum ini pada bocah perempuan itu. Dua tiket, didapat.
Dharma hanya bisa terkekeh menangapi. Ia berpaling kepada Oryza. “Kebocoran?”
Perempuan muda itu tersenyum cerah, “Negative.”
“Bisa kau stabilkan badan pesawat?” Dharma menepuk pundak Hyker. Pria itu mengangguk menerima perintah. “Aku tidak ingin mereka yang di bawah terpanggang,” lanjut sang kapten. “Dengar...!” teriaknya, yang ditujukan untuk semua penumpang di setiap ruangan.
Di ruang logistik, Indra melepas pelukannya dari Jenie, sama fokus mendengar perintah sang kapten. Begitu juga dengan ketiga rekan wanita mereka lainnya.
“Pesawat akan distabilkan untuk lima belas menit,” lanjut suara sang kapten lewat interkom.
“Hei-hei-hei...” seru Boris di palka bawah pada bocah-bocah yang kegirangan. Juga, beberapa orang dewasa. “Dengarkan apa kata Kapten itu dulu.... bah!”
“Kalian yang masih berada di palka bawah, ruang mesin... logistik, infirmaryroom... segeralah ke kabin penumpang di lambung tengah. Pastikan tidak ada yang tertinggal...”
Begitu badan pesawat melaju lurus secara horizontal ke arah utara, semua orang bergerak ke ruangan yang dimaksudkan sang kapten. Ryan, Boris, serta Aldi memindahkan chameleon mereka. Menyusun dan mengikat kendaraan tersebut di sisi depan ruang palka.
Ely sedikit kerepotan sebab seekor anak macan tutul salju menjauh darinya, hingga Aldi harus turun tangan mengamankan satwa langka tersebut.
“...Kita masih berada di ketinggian—“ Dharma menelisik monitor di hadapan Oryza. “—Lima puluh kilometer di atas permukaan laut. Stratosfer. Aku tidak ingin kalian kepanasan sebab beberapa saat lagi kita akan menggunakan hypersonic. Tapi sebelumnya aku juga tidak ingin kalian mati membeku memasuki lapisan mesosfer...”
Hampir semua orang telah berada di kabin penumpang. Mereka yang belum terbiasa dengan hal berbau antariksa mendapat bantuan dari anak buah Kapten Dharma. Masing-masing duduk dalam kecemasan, beberapa di antaranya telah mengunci tubuh menggunakan sabuk pengaman berbentuk X, melintang di dada.
Dokter Kamal memeluk haru istri dan kedua buah hatinya.
Yuan dan Xian sama tersenyum memandang mereka. Bagi keduanya, mengetahui Dharma baik-baik saja, meski lewat suaranya di interkom, itu sudah merupakan sesuatu yang baik.
Dua anak macan tutul salju mendapat perlakuan khusus, meski Ely sempat protes namun dua orang pria segera membawa anak macan tersebut ke sebuah bilik di sisi belakang, di sana kedua anak macan masing-masing ditempatkan dalam sebuah kandang khusus dari kaca.
“...Fraya, Guntur,”
Baik Fraya yang berada di anak tangga ruang mesin atas, maupun Guntur yang berada di ruang mesin bawah sama menghentikan langkah mereka, diikuti beberapa orang rekan teknisi.
“Pastikan tidak ada alat-alat dan robot-robot yang akan membahayakan penerbangan menembus orbit Bumi.”
Bergegas keduanya mengajak rekan mereka kembali memeriksa kondisi kedua ruang mesin tersebut.
Waktu-waktu merangkak teramat pelan dalam masa lima belas menit tersebut. Tidak ada lagi teriakan-teriakan kegembiraan, bahkan sekadar bisik-bisik ketakutan. Tidak ada. Setiap kepala sekarang berisi berjuta spekulasi, ketakutan tentang apa yang tidak mereka ketahui. Ketegangan pada tubuh masing-masing, bahkan pada kelima orang di ruangan kokpit—termasuk bagi diri Kapten Dharma sendiri.
Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah menginjak angkasa luar. Mereka yang sedianya adalah awak pesawat, hanya berpengalaman dengan simulasi-simulasi yang sering mereka jalani di kastil Pangandaran. Sehingga, kehidupan seperti apa yang akan menunggu di hamparan mahaluas di atas sana, mereka tidak mampu memikirkannya.
Dharma bertolak pinggang dengan wajah menengadah dan mata terpejam. Detik selanjutnya, ia menepuk lagi bahu Hyker yang mematung memandangi monitor FMGC, pertanda mereka telah bersiap untuk benar-benar meninggalkan motherland.
Lima orang di ruang kokpit sama duduk siaga di kursi masing-masing. Sama mengenakan masker oksigen.
“Hidup dan mati,” ujar Dharma lirih. Hyker melirik sejurus pada Dharma di kanannya. “Dipertaruhkan dari sini.” Dharma balik melirik Hyker. Tiga yang lain sama hening mendengar perkataan sang kapten. “Kupercayakan nyawa kami di tanganmu, Hyker.”
Mungkin, inilah kali pertama bagi Dharma melihat pemuda dua puluh sembilan tahun tersebut menunjukkan ekspresi serius.
Dharma menyentuh bar dengan logo speaker di monitornya. “Jika ada masa di mana kalian masih percaya Tuhan itu ada—“
Semua wajah di kabin penumpang membisu. Fraya bersama rekannya, juga Guntur dan rekan-rekannya pun telah duduk di ruangan itu. Kepala sama tertunduk. Suara Kapten Dharma masih bergema.
“—Mungkin inilah saatnya... berdoa untuk nyawa kalian.”
Hening...
“Memasuki Hypersonic System, dalam...” Hyker memberi aba-aba, itu artinya tidak ada lagi waktu sedetik pun untuk lengah dari kemudi pesawat. Tidak bagi Dharma selaku kapten, tidak juga pada ketiga yang lainnya di dalam sana. Tidak, sampai pesawat mampu membawa mereka keluar dari atmosfer Bumi. “Lima, empat—”
“Perisai moncong pesawat. Aktif,” ujar Pical di kiri belakang Hyker di sela hitungan mundur sang pilot utama. “Perisai badan pesawat. Aktif.”
“—Tiga, dua, here we go satu...”
Hentakan keras memaksa semua penumpang Spaceship 45 menahan napas seiring pesawat besar bergerak sangat cepat membelah udara di sekitarnya, meninggalkan suara berdengung kencang jauh di belakang.
“Memasuki mesosfer,” ujar Quinn, wanita 26 tahun di kanan belakang Kapten Dharma. “Kecepatan meningkat dua persen.”
Saat memasuki lapisan ketiga dari atmosfer Bumi tersebut, ditambah peningkatan kecepatan pesawat, satu ledakan udara tercipta menghasilkan uap putih sepanjang perjalanan.
Getaran-getaran pada badan pesawat kian intens. Bahkan Boris dan Cinnong berseru kencang demi mengusir ketegangan. Dua-tiga orang dari mereka yang berada di kabin penumpang sama-sama tak kuat menahan getaran. Pusing dan mual, hingga tanpa dapat dicegah memuntahkan isi perut.
Hyker tak sedikitpun beranjak dari mengawasi monitor besar FMGC di hadapannya. Lebih-lebih pada panel PFD. Catatan yang terus bergerak dari VSI menjadi perhatian serius lainnya bagi Hyker, sebab pesawat bergerak semakin vertikal dengan kecepatan tinggi meninggalkan Bumi.
“Tiga persen,” kembali Quinn melaporkan peningkatan kecepatan pesawat. “Lima persen. Mendekati medan mesopause...”
Dua mesin utama GEU di lambung pesawat serta empat mesin GEU—masing-masing di bagian bawah moncong, di bawah kedua sayap, dan di bagian belakang bersisian dengan pintu palka—lainnya yang sepuluh kali lebih kecil, sama menembakkan energi lebih besar lagi, sehingga kecepatan Spaceship 45 semakin tinggi.
“Sepuluh persen,” ujar Quinn dengan terus mengawasi monitor di hadapannya. “Memasuki zona termosfer.”
Ledakan gelombang udara kembali terjadi kala pesawat mencapai peningkatan sepuluh persen hypersonic.
Semakin tinggi mengarungi zona termosfer semakin memerah moncong pesawat, seolah tengah menembus lapisan api yang tebal. Hal serupa juga terjadi pada setiap sisi luar badan pesawat.
“Pertahankan kecepatan ini, Hyker,” Dharma merasa cukup puas dengan laju pesawat.
Tidak ada yang bisa dinikmati Dharma lewat kaca tebal anti peluru yang menyokong dinding bagian depan ruang kokpit itu. Semua terlihat samar dalam kecepatan seperti ini, pikirnya. Dharma tetap fokus pada monitornya, dan berharap tidak ada satu benda asing apa pun yang akan menahan laju penerbangan mereka, alih-alih bebatuan meteor yang bisa membunuh mereka semua.

Sang penguasa tambun masih berdiri di tempatnya. Debu dan pasir menutupi sebagian wajah dan tubuh. Tapi ia tidak peduli. Amarah yang sukar untuk ditakar masih menaungi diri. Sepasang mata laksana dua pedang teramat tajam mengawasi titik hitam dalam balutan merah di atas sana. Sampai ia tak lagi bisa melihat kepergian pesawat antariksa yang dibajak Dharma, barulah kemudian ia meninggalkan kawasan tersebut.
Selama perjalanan kembali ke kastilnya, sang penguasa hanya diam membesi. Urat-urat mata menegang. Tapi ia belum akan menyerah. Setidaknya, sang Penguasa Pangandaran punya kenalan satu-dua orang di dalam tubuh Federasi.
“Kauakan menerima balasan pengkhianatanmu ini, Dharma,” gumamnya.
Sementara chameleon yang dikendalikan seorang robot tersebut meluncur cepat di atas permukaan laut bersama dua chameleon lainnya mendampingi, juga dikendalikan masing-masing seorang robot.
“Kaukira bisa melenggang begitu saja, haa...?”

Badan Federasi Dunia, atau masyarakat awam cukup menyebut mereka Federasi, terbentuk sekitar tiga ratus tahun yang lalu, dengan nama awal Federasi Bangsawan Dunia. Didirikan oleh para Kapitalis Birokrat dan Kapitalis Borjuis di seluruh penjuru Bumi. Meski pada awalnya para bangsawan tersebut mengumpulkan kekayaan dan kekuatan militer untuk keluarga mereka saja secara diam-diam, namun perlahan pergerakan tersebut diikuti oleh hampir seluruh bangsawan yang ada kala itu.
Lambat-laun kekuatan militer dan pasokan dana dari persekutuan tersebut justru mengalahkan satu per satu pemerintah negeri di mana mereka membangun istana dan kastil untuk keturunan mereka.
Pengumpulan kekuatan militer para bangsawan tersebut akhirnya mendapat perlawanan, tidak saja dari pemerintah yang berwenang kala itu, tetapi juga dari rakyat kalangan menengah ke bawah.
Perang besar tak terhindar. Menyeluruh di setiap negeri yang ada. Jutaan korban jiwa melayang demi meredam nafsu para bangsawan. Meski pada akhirnya—setelah perang berkepanjangan selama satu dekade—kekuatan militer gabungan para bangsawan lah yang mendominasi.
Inilah awal di mana semua negara yang ada di dunia, bahkan negara-negara yang dulu begitu kuat dengan julukan superpower, pun, tidak berkutik. Terpecah-pecah. Tidak ada lagi negara Amerika, Britania Raya, bahkan... tidak pula Indonesia.
Sejak itu, Federasi Bangsawan Dunia mengukuhkan diri sebagai penguasa setiap daratan, lautan, dan udara di Bumi. Mengukuhkan nama mereka menjadi Badan Federasi Dunia. Dan sejak saat itu pula mereka dari golongan menengah ke bawah menjalani kehidupan tak ubahnya seekor anjing. Begitu pula nasib yang menimpa dari satu-dua bangsawan yang kala itu menentang ambisi bangsawan-bangsawan lainnya. Buruk, teramat buruk. Sebagian besar bangsawan yang kalah dalam peperangan tersebut, menemui ajal dengan eksekusi penggal di hadapan khalayak. Bahkan anak keturunan mereka.
Seiring keserakahan para bangsawan yang kemudian menjadi Petinggi Federasi mengeksploitasi Bumi, seiring itu pula Bumi kian hancur dan jauh dari kata indah. Seratus tahun setelah terbentuknya Federasi, bencana alam semakin sering terjadi di setiap belahan Bumi.
Kala itu teknologi dan pengkajian antariksa telah mengalami kemajuan pesat, yaa akibat dari kucuran dana tak terputus dari para bangsawan itu juga. Hingga, dengan sering terjadinya bencana alam, para petinggi menggelontorkan dana yang amat besar untuk membangun sebuah pesawat induk. Demi menghindari kematian hina—di mata mereka—lebih baik meningalkan motherland sekalian.
Dan seratus tahun yang lalu, para Petinggi Federasi telah hidup enak jauh di luar atmosfer Bumi, di dalam kapal induk S.o.F – State of Federation.
Setidaknya, setiap spaceship yang meninggalkan Bumi, pasti berada dalam pantauan SoF, begitu pikir Penguasa Pangandaran.



---bersambung ke---

Meninggalkan Bumi - bagian 3

Cerita sebelumnya:
Meninggalkan Bumi – bagian 1.


TULISAN INI ADALAH KARYA ANDO AJO, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Catatan;

Stratosfer: lapisan kedua atmosfer Bumi, dari ketinggian 20 km di atas permukaan Bumi hingga 50 km. Suhu pada ketinggian ini berkisar antara -57o C hingga 18o C pada ketinggian 40 km.

Mesosfer: lapisan Atmosfer Bumi setelah Stratosfer, mulai dari 50 km di atas permukaan Bumi hingga kek ketinggian 85 km. Suhu pada zona ini akan menurun drastis seiring ketinggiannya hingga -143o C.

Hypersonic: hipersonik; kecepatan yang setara dengan lima kali kecepatan suara, atau lima kali kecepatan supersonik. Mach > 5.0 Setara dengan; 6.125 km/jam atau lebih.

Mesopause: ruang/lapisan perantara antara mesosfer dan termosfer. Berada di ketinggian 81 km di atas permukaan laut.


Termosfer: lapisan atmosfer Bumi keempat setelah mesosfer. Berada di ketinggian 85 km hingga 690 km di atas permukaan Bumi. Suhu pada zona ini akan mengalami peningkatan yang luar biasa hingga mencapai 1982o C.

Jumat, 28 Juli 2017

ISS-45. When the Terra Going Down

Meninggalkan Bumi (bagian 1)


“Get ready…!”
            Kecemasan membayang jelas di wajah Ryan begitu pesawat besar terlihat di arah kiri. Sejak dua menit yang lalu, kedua tangan tak lagi disibukkan dengan gadget, berganti senjata berat.
“Mati berkalang tanah, atau hidup lebih lama lagi,” sahut Boris.
Empat chameleon sama meraung meski tidak bergerak seinci pun. Yuan dan Xian berada di bawah pengawasan Yuma, diapit Ryan dan Cinnong di sisi kanan, sementara Naomi di sisi kiri bersama seorang wanita—istri Dokter Kamal. Dan Boris di belakang bersama dua orang anak sang dokter.
“Ingat guys… begitu pintu palka di buritan terbuka, kita segera meluncur. Secepatnya!” Ryan mengokang senjata, sementara di atas sana pesawat yang meluncur ke arah mereka diserbu tembakan orang-orang Pemerintah Pangandaran. Ia menyentuh earphone di telinga, “Pak Dharma?”
“Yan, kurasa tidak ada kesempatan untuk menghentikan pesawat ini barang sebentar. Berusahalah untuk bisa mengikuti—akan kukurangi sedikit kecepatan,” Dharma menepuk bahu Hyker. “Lima menit, atau kita akan mati bersama serpihan pesawat ini!”
“Roger that, Captain.”
Bip
“Mama…”
Yuan menarik Xian ke dalam pelukannya. Ya, ia pun merasa hal yang sama demi menyaksikan letusan-letusan senjata yang mengiringi pesawat antariksa di ujung pandangannya.
“It’s okay Honey. I’m here… I’m right here.”
Yuma menghela napas dalam. Tidak kau saja yang ketakutan, gadis kecil… Setidaknya Yuma sedikit merasa lega, ibu dan anak itu telah mengenakan sabuk pengaman. Dan ia tidak akan sungkan menggeber chameleon dalam kecepatan maksimum nantinya.
“Kalian takut?” Boris mengumbar senyum pada kedua anak Dokter Kamal. Tidak ada jawaban dari keduanya, bagaimanapun, Boris melihat hal tersebut di wajah dan tubuh mereka. Boris terkekeh, meraih satu PSG dan menyodorkannya pada anak laki-laki Dokter Kamal—si sulung. “Kurasa kaubisa menggunakan ini, hmm?”
Bocah laki-laki—Luka, 15 tahun—itu, sesaat ragu. Dari senjata di tangan Boris, pandangannya beralih ke wajah Boris. Sekilas, ia melirik sang adik—Miska, 10 tahun—di kirinya, sebelum akhirnya menyambut senjata yang disodorkan orang.
“Aku—pernah melihat seseorang menggunakannya…”
Boris terkekeh dan mengacungkan jempolnya kepada Luka. “Jaga semangat itu,” ia alihkan pandangannya kepada Miska. “Ayah kalian menunggu di dalam kapal itu. Dan… bukan tubuh tak bernyawa—“ telunjuk Boris menunjuk Miska dan Luka bergantian.

Pesawat antariksa dengan nomor besar—45 warna putih—di kedua sisinya menukik tajam. Senjata berupa senapan besar dan satu cannon—tepat di atas pintu buritan—tak henti-henti memuntahkan amunisi, menghentikan mereka-mereka yang mengekor. Dari puluhan pengejar hanya tersisa belasan saja, dan lebih didominasi para robot.
Di dalam infirmaryroom Dokter Kamal tak henti-hentinya berdoa, meskipun ia bukanlah dari kalangan alim, setidaknya, ia terus berharap—bila memang Tuhan itu ada. Berharap pesawat yang ia tumpangi akan baik-baik saja, lebih-lebih terhadap keselamatan istri dan kedua anaknya.
Di ruang kontrol logistik. Indra dan Jenie tak sekali pun menjauhkan pandangan dari monitor besar di hadapan mereka masing-masing. Pengawasan pada item pendukung kehidupan mereka nanti. Tiga rekan wanita mereka yang lain, duduk dalam hening pada kursi yang menempel ke dinding, terikat sabuk pengaman.
Ruang mesin kedua, sisi bagian belakang atas. Fraya berjibaku menangani “pekerjaan yang tertunda”, bersama rekan teknisi lainnya. Begitu juga yang terjadi di ruang mesin utama, bagian bawah lambung pesawat. Guntur dan rekannya bertahan dari gerakan badan pesawat yang menukik tajam. Berpegangan pada rantai-rantai yang menggantung, sebagian lagi bergelantungan pada jaring dari jalinan tali-tali tebal. Sementara, perangkat kerja dalam beberapa toolbox, kabel-kabel dan potongan-potongan pipa berhamburan.
“Hyker, kuharap kaubisa serius untuk yang satu ini,” ujar Dharma sembari satu tangan terfokus pada joystick di lengan kursinya, dan tangan lainnya mengutak-atik layar di hadapan. Ia tak hendak mengalihkan matanya sekejap pun. Menembak jatuh para pengejar dengan mengendalikan cannon di atas buritan dari posisi di mana dia duduk.
Hyker terkekeh, meskipun begitu, tak sedikit pun sepasang mata teralihkan dari monitor FMGC di hadapannya. Dua tangan mengendalikan arah laju pesawat dengan setir leter W yang tergenggam erat.
“Meski permainan sekalipun,” Hyker terkekeh lagi. “Tidak akan mungkin kulakukan setengah-setengah, Captain.”
“Bagus!”
Sementara itu, dua orang lainnya—satu pria dan satu wanita—pun melakukan hal yang sama dengan sang kapten. Mengendalikan persenjataan yang ada di kedua sisi badan pesawat. Dan seorang wanita lagi tengah mengawasi monitor besar, mendeteksi kalau-kalau ada kerusakan yang cukup berat dialami pesawat akibat serbuan Tentara Pangandaran.

Pesawat besar terbang rendah, sepuluh detik berikutnya Hyker memaksa pesawat menikung tajam, hingga posisi moncong pesawat sekarang mengarah kepada para pengejar. Bersamaan dengan itu Dharma mengaktifkan dua cannon yang berada di moncong pesawat.
“Ryaaan…!” teriakan Dharma seiring gerakan tangannya yang melepas tembakan dua cannon.

“Go, go…!” seru Ryan memberi komando rekan-rekannya.
Empat chameleon meluncur cepat menuju buritan pesawat yang pintunya dalam keadaan bergerak membuka.
Hyker menahan laju pesawat, mundur perlahan, memberi kesempatan pada keempat chameleon memasuki palka. “Kapten… aku tidak bisa menahan lama!” jeritnya.
“Goddamned!” makian sang kapten setidaknya perintah bagi Hyker untuk berusaha semampunya mengendalikan pesawat. “Tembak terus…!!!”
Dua rekan lainnya sama menanggapi perintah sang kapten dengan tembakan membabi buta. Rentetan peluru-peluru kaliber besar mengubah drastis kondisi sekitar. Namun mereka tidak punya pilihan, atau semua usaha akan menjadi serpihan tak berarti.
“Oryza…!” teriak Dharma lagi di sela kesibukannya menghabisi penjilat-penjilat Penguasa Pangandaran.
“Ketahanan sembilan puluh sembilan persen, Kapten!” jawab wanita—29 tahun—yang mengawasi dampak kerusakan pesawat akibat tembakan para pengejar tersebut lewat monitor di hadapannya.
Tembakan demi tembakan memperparah ketakutan di diri Yuan dan Lucy, lebih-lebih pada anak-anak mereka, Xian dan Miska. Sedangkan Luka, meski ketakutan namun tetap memberanikan diri. Insting untuk melindungi sang adik mengambil alih pikiran dan tubuhnya. Satu chameleon yang ditumpangi tiga tentara Pangandaran berhasil ia lumpuhkan, terhempas dan tertabrak oleh chameleon lainnya.
“Seseorang… bersiap di pintu buritan!!!” kembali teriakan Dharma bergema, tidak saja dalam ruang kokpit, tapi juga ke seluruh ruangan di dalam pesawat. “Fraya, Guntur!”
“Aye Captain!”
Suara keduanya didengar Dharma via interkom. Dharma sunggingkan senyum tipis, jawaban serempak dari kedua anak buahnya itu menambah sedikit keyakinannya.
“Hancurkan merekaaa…!” perintahnya lagi.
Sementara itu, Fraya yang berada di ruang mesin atas bergegas turun, menuju pintu buritan. Begitu juga dengan Guntur, dan ia masih menyempatkan diri untuk menginstruksikan pada rekan-rekannya agar mengawasi bagian mesin yang lebih rentan.

Cinnong memosisikan tunggangannya ke sisi kanan buritan, memberi keleluasaan bagi Ryan untuk membidik antek-antek pemerintah.
“Buruaaan…!” perintah Ryan dengan garang, senjata kelas rifle di tangan tak hentinya menghamburkan peluru-peluru tajam.
Chameleon yang dikendarai Naomi dan Lucy lebih dulu memasuki palka. Istri Dokter Kamal itu menjerit-jerit menyeru kedua anaknya yang berada di bangku belakang chameleon yang dikendarai Boris. Namun kala itu, Boris harus lebih dulu berjibaku dengan seorang robot. Ketegangan barulah sedikit menghilang di wajah Lucy saat tembakan Naomi menghancurkan sisi kiri kepala sang robot. Boris dengan kedua anak Dokter Kamal urutan selanjutnya yang berhasil memasuki palka.
“Mama…!” Xian menjerit kencang saat seorang robot berhasil melompat dan berpijak di kepala chameleon di hadapan Yuma. Yuan semakin mendekap sang anak.
Yuma menembakkan senjata PSG besar di tangannya, namun gerakan robot humanoid tersebut selangkah lebih cepat. Dengan tangan besinya, robot tersebut menjebol dan menghancurkan kepala chameleon. Mencabut paksa sejumlah kabel dan komponen chameleon. Laser biru pendek yang ditembakkan Yuma, memaksa tubuh sang robot menggelinjang hebat, dan jatuh bersamaan tergulingnya chameleon tunggangan Yuma ke tanah. Xian menjerit histeris. Yuan tak melepas pelukannya terhadap Xian.
“Yumaaa…!” Cinnong memutar chameleon, mendekati Yuma yang berusaha lepas dari himpitan tunggangannya.
Ryan melompat turun dan langsung mencoba mengangkat badan chameleon yang menindih sebelah kaki Yuma. Begitu juga dengan Cinnong, namun wanita yang satu ini mendekati Yuan dan Xian.
Baru setengah jalan usaha keduanya membantu rekan mereka, empat chameleon telah mengepung keduanya. Meski bantuan tembakan dari Boris dan Naomi, termasuk Luka dari palka pesawat. Tapi itu tidak banyak berarti, bahkan dengan tambahan bantuan Fraya dan Guntur, sebab dari posisi mereka berdiri cukup sulit membidik para robot tersebut.
“Ryan, apa yang terjadi!?” lewat monitor di hadapannya, Dharma bisa melihat kejadian di belakang sana. “Ryan…?”
Para robot membidik Ryan, Cinnong, Yuma, Yuan, dan Xian. Tiga di antaranya melompat turun, berdiri mengitari Ryan dan rekan-rekannya.
“Ryan…? Goddamned, answer me!!!” teriakan Dharma pada earphone di telinga Ryan tak mungkin digubris pria tersebut. Ada hal lain yang lebih kritis untuk ia pikirkan detik ini.
Blaaarr…
Satu chameleon yang ditunggangi robot meledak, tiga meter di hadapan Ryan. Sontak itu membuat pria tersebut membungkuk melindungi wajah dan tubuhnya, begitu juga dengan Yuma dan yang lainnya. Berturut-turut tiga chameleon lainnya terhempas ke tanah. Sebagian terkena laser biru dari senjata PSG seseorang, lainnya ditembus peluru besar dari senjata shotgun.
Satu chameleon datang mendekat dengan kecepatan tinggi, mengalihkan perhatian tiga robot yang berusaha menghabisi Ryan dan rekan-rekannya.
Baru saja ketiga robot menoleh ke chameleon yang datang menghampiri, dua tembakan shotgun memecah kepala dua robot. Sedang satu lainnya terpental dan terhempas jauh, ditabrak moncong chameleon.
Chameleon asing berhenti mendadak di hadapan Ryan dan rekan-rekannya.
“Butuh bantuan?”
Aldi turun dari atas tunggangannya, lantas tanpa menunggu jawaban—setidaknya dari Ryan—ia langsung mencoba mengangkat chameleon yang menindih sebelah kaki Yuma.
Meski sedikit curiga, namun Ryan tak menghiraukan itu. Berdua dengan Aldi, bangkai chameleon mampu mereka angkat hingga Yuma dengan cepat menarik kakinya.
“Go!” ujar Ryan, sementara Cinnong bersama Yuan dan Xian telah memasuki palka.
Dengan menahan sakit, Yuma melompat begitu saja ke atas bangku belakang chameleon. Disusul oleh Ryan yang bertindak sebagai pengendara. Tidak menunggu datangnya serangan lanjutan, Ryan menggeber tunggangannya. Chameleon meraung, setengah terangkat dan melesat memasuki palka.
Begitu pula dengan chameleon yang ditunggangi Aldi dan Ely, menyusul memasuki palka. Begitu chameleon milik Aldi memasuki pesawat, pintu kembali bergerak menutup.
“Ryan?” Dharma merasa harus menghadiahi pria tersebut dengan tamparan keras di pipinya. “Rya—“
“Mulai saja peluncurannya, Kapten,” dengus Ryan mengatur napas. “Semua selamat, dengan tambahan dua penumpang—hmm kurasa, empat.”
“Semua kalian… harap berpegangan pada sesuatu!”
Mendengar perintah sang kapten mereka yang berada di palka bergegas. Sebagian menuju kursi darurat di dinding sisi kanan, lainnya di sisi kiri. Mengikat diri dengan sabuk pengaman dan masker oksigen.
“Kalian siap?”
“Aye Captain,” sahut Fraya.

Penguasa tambun mencapai kediaman Dharma, dikawal sedikitnya empat robot humanoid dengan warna tubuh berbeda dari robot-robot lainnya. Sayang, belum lima detik ia berada di sana, mesin-mesin pesawat menderu semakin kencang, termasuk dua mesin utama di sisi kiri-kanan lambung. Dan detik selanjutnya, pesawat yang disiapkan sang penguasa tambun demi keselamatan ia dan keluarganya, melesat tinggi. Meninggalkan debu-debu yang mengepul menutupi pandangan sang penguasa.
“Terkutuk kau Dharma…!”



…bersambung ke…

Meninggalkan Bumi - bagian 2


Cerita sebelumnya:


TULISAN INI ADALAH KARYA ANDO AJO, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Google+ Followers