Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016

Sumpah ini Pemuda

Sumpah ini Pemuda



“Kau tidak bosan?”
       “Bosan?” Maun terkekeh, mungkin baginya akulah yang harus di-tertawa-i. “Bagaimana mungkin kau mengharap perubahan bila kau selalu terbentur kata; bosan?”
             “Haah, sudahlah,” sanggahku, seperti biasa Maun pasti akan mengeluarkan jurus ceramahnya padaku. “Aku mau berangkat kerja dulu, waktu makan siang sudah usai, nih.”
          Kutinggalkan Maun begitu saja, aku sangat yakin jika dia pastilah menatap punggungku dengan menggelengkan kepala, plus gurat senyum di bibirnya yang menghitam.
Maun adalah sahabatku sedari STM dulu. Hanya saja, ia tidak seberuntung teman-teman yang lain. Sepertiku. Mendapat pekerjaan yang layak, gaji yang tetap—bahkan bila kau bagus, bisa lebih daripada itu. Tapi… dia berbeda. Yaa, aku tidak bisa mengacuhkan itu, Maun pernah beberapa kali mendapat pekerjaan—sebut saja sesuatu yang layak daripada yang sekarang. Entahlah, hanya beberapa bulan saja, dan ia memutuskan keluar dari pekerjaannya.
Kau mungkin akan membalikkan ucapannya. Soal, bosan tadi. Tapi Maun selalu punya alasan untuk berkilah. Yang paling sering ia gunakan; “Rasanya ada yang tidak beres.” Entah apa pun itu artinya, aku sendiri juga tidak mengerti. Dan di sanalah dia, sehari-hari membersihkan sungai yang tak lagi bisa disebut sungai. Sudah dua tahun Maun melakukan itu, dan aku tidak melihat ada perubahan sama sekali. Maksudku, soal kehidupannya. Yaa, meski ada upah yang ia terima dari pemerintah setempat, tapi menurutku itu terlalu kecil dari tenaga dan usaha yang ia keluarkan.
Sudahlah, kutinggalkan saja dia dulu. Ada hal yang harus kupikirkan—dan lebih utama—laporanku kepada atasan. Hahh, malas sekali rasanya kaki ini untuk melangkah.

*

“Bagus, ketawai aja terus…!” dengusku, dan melampiaskan emosi di diri pada jus jeruk di dalam gelas. Ludes.
Maun tak jua mau berhenti tertawa, menyesal juga rasanya aku menceritakan kejadian siang tadi padanya. Maksudku, soal laporanku pada atasan di kantor. Hahh, apa yang bisa kulakukan? Atasan tidak menerima laporanku dengan baik, kadang aku berpikir apa dia tidak bisa melihat dari sisi diriku. Capek gitu lhoo… dan itu tidak dihargai? Waoow… Terlalu banyak kesalahan, begitu kata atasanku, dan yaa kau bisa membayangkan dia berujar sambil menghempaskan setumpuk kertas itu ke atas meja, tepat di hadapanku.
“Kau itu berangkat pagi—rapi lagi, pulang udah malam… kusut pula,” sahut Maun, dan itu menjengkelkan. “Kerja, apa dikerjain?”
Hahh, aku tidak ingin  menanggapi pertanyaan itu, bisa-bisa kehilangan kontrol diri. Yang bisa kulakukan, hanya meremas rambut, biar pada rontok atau botak sekalian.
“Lupakan itu,” ujarku sesaat kemudian, “Kau tidak mau kerja yang lebih baik?”
“Seperti dirimu, itu?!”
“Berengsek…!” lihat, begini saja sudah membuatku kesal nih cowok satu. “Maksudku, kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekadar membersihkan kotoran sungai. Kau tidak perlu mencontohku,”
“Baiklah, akan aku turuti ucapanmu,” Maun menyeringai, “Terus, siapa yang bakal membersihkan sungai-sungai itu?”
“Heehh, capek ngomong ama kamu,” dengusku lagi.
Maun tertawa lagi. Entah apa yang ada dalam tempurung kepalanya itu. Maun sendiri bukanlah orang bodoh, maksudku, dulu dia adalah anak yang pintar—aku serius. Jadi kami pikir—paling tidak aku sendiri—dia pasti bisa menemukan pekerjaan yang cocok, yang sangat ia sukai untuk menyokong perekonomiannya sendiri.
“Kau tidak terpikirkan untuk mengumpulkan… entahlah, biaya mungkin. Kau pasti ingin memiliki istri bukan, keluarga kecilmu sendiri?”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu, plus sepasang alis yang mengerut aneh, membuatku tidak bisa memarahinya. Dan lagi, apa urusanku? Maun hanya teman, dan sebagai teman aku tentu hanya bisa memberi saran terbaik, sesederhana itu.
“Ayolah, aku serius,” ujarku mengalah.
“Kau pernah punya mimpi?”
Aku mencibir menanggapi pertanyaan itu, tidak relevan, begitu pikirku untuk seusia kami. Lain hal bila kau masih kecil, unyu-unyu… Maun tertawa lagi. Apa pun masalahnya, dia selalu tertawa seperti itu. Mengesalkan.
“Aku punya,” ujarnya melanjutkan ucapan. “Punya istri, punya anak lucu-lucu. Pagi lari bersama menghirup kesegaran alam. Sore bercanda ria di tepian sungai mengalir bening—“
“Jadi…” aku memotong ucapannya, tahu pasti ke mana perginya itu. “Kau akan berkata; Lantas bagaimana aku akan menikah dan punya keturunan jika alam tak sesegar yang dibayangkan, dan sungai tak sebening yang diharapkan. Begitu?”
Maun mengangguk, dan menghadirkan senyum teramat manis—menurutku—yang belum pernah kulihat selama ini.
“Kau gila!” dengusku. Entahlah, aku tidak tahu apa yang tengah kurasakan. Kecewakah? Marahkah? Atau justru senang mendengar impian konyol itu? “Kau terlalu naif, sobat… terlalu naif.”

*

“Apa itu?”
Aku bisa melihat banyak kerutan di jidat Maun yang hitam tersengat mentari itu. Aku… entahlah, mungkin naif seperti dia.
“Naiklah, dulu…!” teriakku kepadanya.
“Kenapa kau terlihat berbeda?”
Haha, sukar untuk menyembunyikan itu dari mata Maun. Ia keluar dari dalam sungai, yaa kotor dan bau. Bau dari sampah-sampah orang-orang yang merasa suci dan memiliki kota ini.
“Kau tidak sedang mengigau, kan?”
“Berhentilah menggodaku, pemuda berengsek!” dengusku meski senyum tak pernah pupus di bibirku. Kuserahkan bungkusan itu padanya, juga sekotak makanan untuk makan siangnya. “Sudah kuputuskan—“
“Apa itu?” potong Maun, “Ahh, akhirnya… kau mau juga menjadi istriku,”
“Jangan seenaknya memotong ucapan orang!” dan sial, Maun justru tertawa kencang menanggapi jeritanku. Aku merasa wajahku tebal, begitu tebal, pandangan beberapa orang yang berlalu lalang begitu aneh di mataku. “Aku… sebut aku naif, tapi aku banyak belajar darimu. Yaa, sudah saatnya kata; bosan, kuhapus dari kamus dalam kepalaku. Itu saja,”
Untuk pertama kalinya di mataku, Maun tidak banyak bicara seperti yang sudah-sudah. Dia hanya memandangiku, bungkusan dan kotak makanan di tangannya yang kotor berlumpur. Dan senyum indah seperti semalam.
“Aku, keluar dari pekerjaanku. Kuputuskan untuk pulang ke kampung saja. Kau benar, sobat. Masih banyak hal yang bisa dilakukan anak muda seperti kita. Masih banyak…”

*

Di kampung tidak banyak yang bisa kukerjakan. Yaa, bukan berarti tidak ada yang bisa kukerjakan. Ada kok. Aku menerapkan ilmu semasa kuliah dulu di sini. Mengumpulkan beberapa anak-anak yang putus sekolah dan yang tidak pernah mengecap pendidikan, mengajar mereka dua hal ilmu yang penting—menurutku. Mengenal tulisan, dan berhitung. Tidak ada yang membayarku, kecuali orang tua dari anak-anak tersebut. Lucu sekali, dan itu lebih banyak dengan berbentuk barang. Kau tahu yang kumaksud? Seikat sayuran, ikan, atau apalah itu yang menjadi mata pencarian mereka.
Yaah, memang tidak banyak yang bisa kulakukan. Naif sekali. Aku tersenyum sendiri, separti apa jika Maun si pemuda berengsek itu melihatku di sini. Hahaha… lupakan saja.

Waktu bergulir begitu cepat. Dua tahun sudah aku berada di kampung halaman. Satu hal yang selalu menggelitik rasa ingin tahuku; bagaimana keadaan Maun sekarang? Jadi, kuputuskan untuk kembali ke Jakarta. Sudah lama rasanya tidak mendapat kabar dari dia. Hmm, terakhir setahun yang lalu.

*

Aku menemukan dia di tempat yang sama, seperti dulu. Maun masih setia pada sungai itu. Tidak ada yang berbeda, kecuali rambut yang sedikit gondrong dan kulit tubuh yang semakin mirip batu pualam. Satu lagi, ada empat orang lainnya yang sekarang membantu Maun membersihkan sungai itu.
Lama aku memandanginya sebelum ia menyadari kehadiranku. Dan sungguh, senyuman manis di bibir menghitam itulah yang kunantikan. Maun merangkak ke tepian.
“Haaa, bagaimana?” sahutnya tanpa rasa grogi sama sekali, maksudku sudah terpisah dua tahun, basa-basi dulu kek, apa kek. Menyebalkan. “Kau sudah memutuskan untuk menjadi istriku?”
Entah kenapa, kali ini aku tidak memaki sebagaimana dulu-dulu itu. Aku terkekeh menanggapi ucapannya.
“Sudah lama juga, ya?” ujarnya lagi. “Aku sih, sebenarnya pengen meluk kamu, gitu. Tapi… ya kamu lihat sendiri, kan?”
Lumpur bau masih menempel mesra di tubuhnya. Hahaha, sudah pasti aku akan menolak.
“Aku, hanya ingin mengatakan satu hal padamu, Maun,” kutatap dalam kedua matanya.
“Kau boleh mengatakan apa pun yang kau mau,”
“Aku serius… aku, juga memiliki mimpi yang sama!”



Ando Ajo, Jakarta 09 Agustus 2016.

Sabtu, 26 Maret 2016

XYZ

Inisial D


Daan menghela napas, melepas sarung tangan karet berwarna hijau dari kedua tangannya. Lantas berdiri, melangkah menjauhi jasad kaku, meninggalkan sisanya pada tim forensik.
“Jadi,” songsong Dwipa, menyandarkan tubuhnya ke badan mobil. “Kaumenemukan sesuatu, Daan?”
Daan mengempaskan napas, dua tangan berada di sisi pinggang. “Entahlah… semua masih ambigu. Satu-satunya kesamaan, kemaluan korban yang hilang,” Daan menggerakkan kedua tangan sejajar bahu, menegaskan kata: hilang, pada ucapannya.
Dwipa melipat kedua tangan ke dada, berpikir sejenak. “Dan ini, korban keempat…” desahan yang mengakhiri ucapannya seakan meneriakkan pada Daan, jika sang Kepala Bareskrim Polda Bali tersebut berharap pelaku—yang belum diketahui itu—tertangkap secepatnya. Begitu pula: mengungkap motif pelaku yang mengebiri kemaluan korbannya.
          Ya, Daan sangat mengerti itu: keresahan warga, alih-alih wisatawan. Dan sampai korban keempat ini, pihak Kepolisian masih mampu menutupi. Tapi, andai jatuh korban lagi dan lagi, Daan sama khawatirnya dengan sang atasan. Bali, akan kembali ditelan ketakutan.
          “Bagaimana dengan ide; profesionalisme-nya?”
          Daan pun menyandarkan punggungnya ke mobil di hadapan Dwipa. “Yaa, saya masih memiliki prasangka pelakunya seorang dokter bedah—setidaknya seseorang yang sangat mengerti organ manusia.”
          “Soal, darah?”
          Ya, itu benar. Tidak setetes darah pun ditemukan tercecer di TKP, tidak pula semenjak TKP pertama hingga keempat. Inilah yang memusingkan Daan sebagai “orang andalan”  dalam tubuh Divisi Investigasi. Bahkan hal ini pun sudah dipastikan oleh tim forensik yang tidak menemukan ceceran darah meski telah menggunakan cairan luminol di sekitar TKP.
          Daan tidak mampu menjawab pertanyaan Dwipa, terlalu sulit, pikirnya. Penjahat macam apa yang mau bersusah-susah agar darah korban tidak tercecer?
          Dwipa merentangkan kedua tangan, memutar-mutar leher mencoba mengusir rasa pegal di tubuh. “Pukul tiga lewat sepuluh,” ujarnya melirik Daan. “Pulanglah, tenangkan pikiran, kami mengandalkanmu. Pastikan paling lambat jam sembilan pagi nanti, aku sudah menerima laporanmu di mejaku.”
          Daan mengangguk lemah. “Permisi, Ndan.”
          Dwipa mengawasi mobil Daan yang meluncur pelan meninggalkan TKP, menembus kebekuan dini hari ini.

“Sudah empat pria dalam sebulan,” gumam Daan dalam perjalanan pulangnya. Meski jalanan sedikit lebih lengang dini hari ini, Daan tak hendak buru-buru, ia butuh satu mukjizat dalam kasus kali ini. “Turis Jepang, Australia, pria lokal, dan… India. Damn! Ayolah Daan… keluarkan instingmu seperti yang sudah-sudah!”
          Daan memelankan laju mobilnya, memberi kesempatan sebuah truk pengangkut sampah berbelok ke kiri. Dan kembali mobil Daan meluncur.
          “Ayolaaah…” kembali Daan bergumam menyemangati diri. “Pikir-pikir-pikir!” Daan bahkan sampai menepuk-nepuk kepalanya sendiri. “Empat korban, pria, semua kisaran tiga puluh tahunan. Tidak ada ID yang hilang, tidak juga uang dan harta di tubuh korban. Lantas apaaa…? Ahh!”
          Daan nyaris saja melewatkan tikungan ke kanan di pertigaan, jalan menuju apartemennya. Untung saja jalanan masih sepi, Daan jadi bisa memundurkan mobilnya, dan berbelok ke kanan.
          “Tiga korban sebelumnya,” lanjut Daan seperti orang sinting berbicara ke diri sendiri. “Dikebiri setelah dibunuh dengan menyumpal tenggorokan. Dan darah yang dikeringkan dari tubuh mereka… Tidak ada jejak perlawanan. Keringat yang mengering di tubuh.”
          Semula—dari dua korban sebelumnya—Daan dan rekan forensik berkesimpulan jika pelaku berkemungkinan besar adalah wanita dan menyerang turis asing saja, mengingat dua korban awal ditemukan tewas di atas ranjang. Seorang di kamar apartemennya, lainnya di kamar sebuah penginapan di tepi pantai. Ditambah kenyataan bahwa tubuh korban berkeringat yang menandakan ada aktifitas ranjang yang dilakukan antara si korban dan pelaku. Reka yang ada dalam kepala Daan adalah: korban dan pelaku berhubungan intim, kemudian korban merasa puas, lantas tertidur, kemudian dibius oleh pelaku, dan pelaku menyumpalkan sesuatu seperti kain ke tengggorokan korban, setelah korban tewas kehabisan napas dalam tidurnya, pelaku mengebiri kemaluan korban, dan… mengeringkan darah korban.
          Tapi, korban ketiga yang adalah warga lokal yang ditemukan di tepian pantai, sedikit menyisikan deskripsi sang pelaku. Begitu pula dengan korban keempat yang baru ditemukan tadi—di tengah kerapatan tanaman kelapa. Dan dugaan pelaku adalah seorang yang sangat mengerti anatomi tubuh manusia serta keperfeksionisan menjadi mencuat. Tidak adanya tetesan darah, dan pengamputasian alat kelamin korban yang begitu rapi—nyaris sempurna, mengindikasikan kedua hal tersebut.
          Tanpa terasa, Daan telah berada di depan gerbang apartemen. “Ahh, aku butuh kesegaran, dan secangkir kopi hitam.”

Setengah malas Daan membuka pintu apartemennya, bayang bathup dengan genangan air hangatnya, membuat Daan sedikit bersemangat. Dan biasanya, itu ampuh menyegarkan pikirannya. Berlama-lama merendam diri ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya. Perfect.
          “Daisy!” Daan seolah lupa pada kekasihnya itu.
          “Hai, Sayang.” Daisy merebahkan tubuhnya di atas sofa merah.
          Daan terkekeh, ya, ia memang memberikan duplikat kunci apartemennya pada Daisy. Dan, posisi berbaring Daisy sekarang itu, menghasut gairah lain di dirinya. Lebih-lebih, wanita 27 tahun itu hanya mengenakan kaos putih longgar saja menutupi tubuhnya.
          “Kapan sampai?” tanya Daan sembari melepas pakaian atas di tubuhnya. Yang ia ingat pasti, terakhir kali menikmati bibir sensual itu sekitar sebulan yang lalu.
          “Setengah jam yang lalu,” Daisy mengerling manja, melipat kakinya sedemikian rupa.
          “Kamu terlihat letih banget,” ejek Daan, duduk di sofa yang sama, menggeser dan mengangkat kaki Daisy ke atas pahanya.
          “Yaa, setengah jam sebelumnya nungguin kamu di kafe bawah.”
          “Novelmu gimana?” Daan coba memberikan terapi ringan di kedua kaki Daisy.
          “Mentok lagi.” Daisy tertawa, sedikit kegelian akibat kenakalan tangan Daan yang memijit pahanya.
          “Sebulan di Lombok masih mentok juga?!” Daan terkekeh, punggung tangannya dicubit oleh Daisy, dan juga bibir yang sengaja dimonyong-monyongkan itu menanggapi pertanyaan sekaligus keheranannya. “Hahh, ya udahlah. Kamu mau ikut, Sayang?” Daisy mengangkat kedua alis indahnya, Daan terkekeh lagi. “Bathup, menyegarkan diri?”

Di dalam kamar mandi. Dua cangkir kopi hitam masih mengepulkan asap tipis, berjejer di atas meja keramik kecil di sisi kanan Daan bersandar. Daan berendam sembari memeluk Daisy di dalam bathup.
          “Kasusnya pelik juga, ya…” ujar Daisy
          “Yaah,” sahut Daan, dan mengecup rambut basah Daisy. “Hampir gak ada petunjuk—” saat menyibakkan rambut Daisy ke depan bahu kanan wanita tersebut, Daan melihat dua luka gores di leher belakang sang kekasih. “Leher kamu, kenapa, Yang?”
          “Agas. Gatel banget, yaa aku garukin aja ampe lecet.”
          Daan memiringkan kepala, ia perhatikan lagi areal luka gores di tengkuk Daisy. Tidak ada bekas gigitan nyamuk pantai itu di lehernya, gumam Daan dalam hati. Itu, tidak mirip sama sekali dengan luka lecet akibat garukan. Lebih terlihat seperti luka cakaran dalam sekali tarikan.
Intuisi Daisy tak bisa dianggap biasa saja, sebagai seorang novelis perfeksionis, hal sekecil apa pun akan menjadi pertimbangan lain baginya. Termasuk, gerak tangan Daan yang seolah terhenti, dan debaran tak beraturan yang ia rasakan di punggungnya dari dada pria tersebut.
“Masak kamu cemburu sama nyamuk pantai, sih?” manja Daisy dengan mengulas senyum teramat manis.

Jam tujuh pagi. Daan dalam perjalanan menuju Mapolda. Dalam kondisi jalan ramai pagi ini, butuh waktu nyaris satu jam bagi Daan untuk mencapai kantornya. Dan sialnya, ia melupakan laporan yang diminta Dwipa. Ya, keberadaan Daisy membakar gairahnya malam tadi. Dan Daisy pun telah meninggalkan kamar apartemen di awal hari, kebiasaan gadis tersebut sedari awal dikenal Daan.
“Apa yang bisa kuperbuat?” desah Daan mengenang tingkah Daisy yang suka pergi begitu saja tanpa pamit, tanpa memo. “Apa semua penulis seperti itu?!”
Daan tiba-tiba terdiam, kembali memikirkan dua luka gores di tengkuk Daisy. Seakan mengingat sesuatu yang terabaikan, Daan bergegas menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Hallo, Danang. Saya minta kamu memeriksa kuku tangan korban… ya, TKP pantai. Benar, korban ketiga. Ya. Ok, secepatnya. Satu jam lagi saya akan berada di kantor.”

“Rhesus Negatif? B?” ulang Daan.
“Ya. Anda terlihat tidak senang, Pak?” sahut Danang memerhatikan mimik wajah Daan yang lain dari biasanya.
“Yakin cuma ini saja yang kautemukan?” selidik Daan lagi.
Danang mengangguk pasti, cuma sedikit bercak darah yang bisa ia temukan di kuku korban ketiga tersebut, nyaris luput dari mata telanjang.
Daan menghela napas panjang. “Terima kasih,” ujarnya sambil berlalu dari ruang laboratorium tersebut.
“Sial… bagaimana ini?” geram Daan seorang diri di koridor lengang itu. Di satu sisi, ia senang sebab dengan informasi dari Danang, jelas Daisy tidak lagi menjadi kandidat pelaku-nya. Namun di sisi lain, kembali ia harus memulai dari nol. Ahh, tidak. Dari angka satu, paling tidak ia sudah mengantongi golongan darah pelaku yang tergolong langka—Rhesus Negatif.
Daan baru akan mencapai pintu kantor sang komandan saat ponselnya berdering.
“Daisy, kurasa ini bukan saat yang tep—ehh, apa? Dari mana kamu—ahh, shit aku lupa merapikan meja. Apa…?! Inisial katamu? Damn, benar juga. Thanks Hon, I’ll get you later. Bye—“
“Daan,” seru Dwipa saat akan keluar dari dalam kantornya. “Untung kau sudah di sini.”
“Eeh…?”
“Sanur. Hotel yang baru direnovasi tiga bulan yang lalu,” sahut Dwipa menjawab keanehan di wajah Daan.
“Biar saya tebak,” sahut Daan mengiringi langkah Dwipa. “Korban lainnya dengan inisial; D.” Daan bisa melihat tanya besar dari tatapan Dwipa kala memandang kepadanya, sebelum keduanya menghilang di pintu berikutnya.
“Hebat,” seru Dwipa menuruni anak tangga. “Tapi sudah tidak terlalu penting.”
“Maksud Anda, Ndan?”
“Kali ini korbannya tidak sampai kehilangan nyawa, dan—“ keduanya berada di dalam satu mobil yang sama. Dwipa yang mengemudi. “—Si korban berhasil menangkap pelakunya.”
Keterkejutan Daan sekaligus kelegaan akan tertangkapnya pelaku dijawab Dwipa dengan raungan mobil yang meluncur ke arah timur.

Daan masih berdiri bersidekap dada, menunggu dua perawat itu keluar dari kamar tersebut. Di atas ranjang, seorang pria tergolek lemah. Ia baru saja menjalani operasi darurat—beberapa jahitan di areal kemaluannya.
“Katakan, Dana,” bayang kelabu mewarnai wajah Daan. “Haruskah aku bersyukur karena kau tidak menjadi korban kelima, atau aku harus menamparmu atas nama Kakak ipar?”
Dana tak mampu menjawab pertanyaan adik-kembarannya itu. Ia ingin saja memohon untuk menyelamatkan rumah tangganya, namun rasa bersalah memaku lidahnya.
Daan memandang iba Dana. “Untuk kali terakhir. Tapi berjanjilah, buang gairahmu pada istrimu sendiri.” Daan melangkah keluar kamar, ia yakin Dana telah mendapat hukuman lebih daripada cukup.

“Baiklah Nona Dian.”
Daan harus menginterogasi pelaku, bukan untuk penangkapan karena hal itu sudah pasti, lebih kepada motif gadis 28 tahun tersebut. Di dalam ruangan empat kali enam meter persegi, hanya ada satu meja panjang dengan dua kursi. Satu kursi diduduki Daan, satunya lagi di seberang meja, diduduki Dian.
Dwipa dan beberapa petugas lainnya, menyaksikan “sesi” tersebut dari balik kaca persegi di dinding sebelah kanan Daan. Kaca antipeluru yang hanya bisa melihat dari sisi luar saja.
“Kenapa harus mengeringkan darah korban?”
“Kau tidak ingin bertanya; kenapa harus memotong penis mereka?”
Daan terkekeh, memantik sebatang rokok. “Kaumerokok?” Daan melemparkan bungkus rokok menthol ke atas meja, meluncur ke arah Dian berikut dengan pemantiknya. “Lupakan itu. Kau bukan perempuan pertama yang memotong kemaluan pria, jadi—“ asap putih mengepul dari mulut Daan. “—Aku lebih tertarik soal darah.”
Dengan kedua tangan yang disatukan oleh borgol, Dian mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannnya. “Aku femme yang menyukai femme.”
“Menarik,” Daan terkekeh. “Kaumembunuh demi pasanganmu, begitu?” Dian menanggapi pertanyaan Daan dengan tawa, tawa tak bersuara. “Darah?”
Dian mengisap rokok lebih dalam. “Kautahu… bercinta itu adalah seni tertinggi. Sebagian mereka bilang; seni ilahi. Kauingin melakukan apa saja saat bergumul. Bercinta dalam genangan darah yang hangat, itu—sensasi yang luar biasa. Kaumau mencoba?”
“Lewatkan saja,” Daan mematikan rokok ke dalam asbak.
Di luar, Dwipa dan beberapa anggota saling pandang. Bergidik ngeri mendengar pengakuan wanita tersebut.
“Jadi… siapa femme yang satu lagi?”
“Aku tidak akan mengatakannya,” Dian mencibir. Sebelum Daan membuka mulut, Dian mendahului, “Kaupikir dia juga terlibat?” Daan mengangkat kedua bahu. “Kau tidak mengerti apa-apa tentang kami—“
“Kurasa,” potong Daan. “Aku lebih dari mengerti.”
“Begitu?” Dian terkekeh lantas menjentikkan sisa rokok.
Daan memiringkan kepalanya ke kiri menghindari terjangan puntung rokok, lantas mengumbar senyum.
Dayita Calya… Dian terkekeh lagi, ia ingin saja menyebutkan nama itu sekencang-kencangnya. Namun, ia memilih menyimpannya dalam hati.
“Bisa kau lebih bekerja sama?”
“Dan kalian akan mengurangi hukumanku?” Dian sunggingkan kesinisan di sudut bibir.
Daan mengangkat bahu lagi, “Mungkin saja.”
“Aku tidak akan bicara padamu lagi, sebelum mendapatkan pengacara!”


Beberapa bulan kemudian.
Daan melangkah mantap keluar dari dalam lift, menuju pintu apartemennya. Sebenarnya, ia sangat berharap Daisy ada di dalam, dan ia akan sedikit “merayakan” pengeksekusian pelaku pembunuhan sadis beberapa bulan yang lalu. Sayang, Daisy tengah berada di Jakarta.
“Gimana peluncuran novelmu, Sayang?” sapa Daan membuka obrolan via ponsel.
“Yaah, lumayanlah. Kuharap dengan begini bisa mengangkat genre ini.”
“Haa, begitu. Yaa, kudoakan, deh. Buat kamu, apa sih yang enggak?”
Daisy terkekeh mendengar ucapan merajuk Daan tersebut. Ia cukup tahu jika sekarang sang kekasih butuh kehangatannya.
“Gimana dengan kasusmu itu, Yang?”
“Haaa…” Daan mengempaskan tubuhnya ke atas pembaringan. “Ternyata Nona Kutu Buku tertarik juga dengan kasus pembunuhan. Hmm…”
“Yaah, ngambek tuh… hahaha. Siapa tahu bisa menginspirasi novelku yang berikutnya. Ngasi roh gitu.”
Daan tertawa menanggapi kelakar Daisy. “Yaa, aku merasa sayang saja.”
“Sayang?”
“Begitulah. Muda, sangat pintar, mahasiswi kedokteran… S2 pula,” Daan mendesah panjang. “Ya sudahlah. Kamu kapan pulang? Kangen, nih…”
“Dua hari lagi. Baiklah, Sayang. Aku mau mandi dulu.”
“Bye, jangan tidur kelewat malam lhoo.”

Daisy tersenyum liar, menatap tubuh setengah telanjangnya di depan cermin. Kepala masih dilindungi lilitan handuk.
“Kautahu, Daan?” gumamnya. “Novel itu butuh nyawa, Sayang. Nyawa. Untuk menghidupkan setiap unsur yang ada di dalamnya. Tapi sudahlah. Kau tidak akan tahu itu, Sayang, tidak akan tahu. Kau tidak suka membaca novel. Ahh, aku suka sisimu yang satu itu.”
Daisy terkekeh sembari melemparkan ponsel ke atas ranjang. Di tangan kirinya, tergenggam sebuah novel yang baru saja dicetak. Pada sampul novel berjudul ‘XYZ’ tersebut, tertera nama sang penulis: Dayita Calya.

---o0o---

TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.
Ando Ajo, Jakarta 23 Maret 2016.

Catatan:
Luminol; Chemiluminescence (C8H7N3O2) cairan kimia yang mampu mendeteksi unsur partikel darah dari satu objek. Biasanya digunakan bersama zat Hidrogen Peroksida (H2O2) dalam ilmu forensik. Saat menyentuh objek yang terkena darah (dan atau pun pernah terkena darah) cairan luminol akan memancarkan cahaya biru terang dalam gelap.
Agas: nyamuk pantai, kecil-kecil, namun dengan gigitan lebih menyengat dan menimbulkan bengkak serta gatal luar biasa.
Rhesus Negatif: golongan darah yang tidak memiliki Aglutinogen (senyawa yang menjadi faktor penggumpalan darah) di permukaan sel darah merahnya.
Femme; istilah dalam kaum LGBT untuk merujuk lesbian yang berkarakter feminin.

Dayita Calya; dari bahasa Sanskerta. Dayita: kekasih. Calya: tanpa cacat.

Senin, 08 Februari 2016

Member FC - Kite Lagi Liburan [Chapter 11 - Final Chapter]

Akan Gue Ingat Jasa Lo


Kembali pada Buyut yang tengah duduk berdua dengan si gorila galau.
Mereka sama berdiam diri menatap lurus ke lautan. Tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, tidak pula isak tangis seperti sebelumnya. Dua kaki sama selonjoran di atas hamparan pasir, dua tangan sama-sama diletakkan di pangkuan.
Tidak berapa lama, perhatiaan kedua makhluk beda spesies ini terpecah. Sama tertarik pada sejumlah orang di ujung kanan sana. Ada rasa heran di wajah keduanya, bahkan sama berkerut aneh.
Tujuh orang berlari ke arah si Buyut dan gorila. Tiga orang di antaranya adalah dokter, dengan mengenakan setelan khas jubah putih-putih, dan salah seorang dari ketiganya adalah bule. Sedangkan empat yang lainnya orang-orang dari penangkaran hewan, dua orang di antaranya membawa satu serokan ukuran besar, sangat besar. Sedangkan dua orang sisanya membawa segulung tali.
“Itu mereka!”
“Ayoo, tangkap…!”
Buyut dan si gorila kaget bukan kepalang. Seolah-olah ketujuh orang tersebut berniat menangkap mereka. Buyut mengerutkan dahi, kalau terhadap para pawang dari penangkaran hewan tersebut ia tidak heran, jelas yang mereka tuju adalah si gorila jantan di samping kanannya itu. Nah, ini kenapa dia juga dibawa-bawa segala? Ia dengan jelas bisa memastikan jika ketiga orang yang terlihat seperti dokter tersebut juga menunjuk-nunjuk pada dirinya.
Namun tatkala Buyut mencoba memerhatikan dengan seksama para dokter itu, sontak wajahnya semakin berkerut tak keru-keruan.
Betapa tidak, ternyata dokter bule itu adalah orang yang sama dengan bule beberapa hari yang lalu. Yang itu tuh, yang kejadian di toilet umum di dekat pasar tempo hari, he-he. Sepertinya tuh dokter adalah dokter spesialis kejiwaan, dan dia berpikir jika si Buyut adalah salah satu dari sejumlah pasien yang harus mendapat perawatannya.
(Jiahahha…) Pada dada kiri seragam kedokterannya tersemat emblem nama; Jono. (Beuh, bukannya Jono tuh nama Indonesia? Kok bule bisa pake nama itu juga? Kalo Jhonny lebih masuk akal. Ya sudah lah, lanjuut…)
Mau tidak mau, terpaksa Buyut dan si gorila cabut dari sana. Berlari sekencang mungkin. Kadang Buyut berada di depan si gorila, di lain waktu justru si gorila yang berada paling depan. (Hahha konyoll, napa tuh gorila larinya kek manusia?)
“Sial…” maki Buyut. “Tuh bule pasti ngira gue or-gil nih. Aseemm…”
“Berhenti! Woii… berhenti!”
“Sorry, yee…” cibir Buyut. “Enak aje main tangkep, beuuhh... Sok udag enggalan aritiasa mahh…!” (Ayo kejar kalau bisa…!—sejak kapan Buyut bisa berbahasa Sunda, ya?)
Jadilah peristiwa kejar-kejaran tersebut berlangsung riuh. Buyut dan gorila berlari di sepanjang bibir pantai hingga berbasah-basahan, begitupun dengan mereka-mereka yang mengejar keduanya. Lalu mengarah ke kerimbunan pepohonan, terpaksa para pengejar ikut juga berlari ke arah tersebut. Seorang dari para pengejar secara tidak sengaja menginjak patahan ranting, ia melompat-lompat dengan satu kaki sementara satu kaki lagi menahan sakit.
Melihat pengejar menginjak ranting dan berlari sembari melompat-lompat, bahkan ada juga dari tim dokter yang terjatuh karena sejumlah dahan pohon menghalang langkahnya, kontan saja Buyut dan si gorila terbahak-bahak sembari melompat-lompat kegirangan mengejek para pengejar.
(Gila juga tuh mereka berdua, masak pake tos-tosan segala, ha-ha-ha)
Kembali keduanya berlari menjauh. Di satu kesempatan, Buyut dan si gorila berlari saling berdampingan, dengan tiba-tiba si gorila mendorong Buyut ke sisi kanan hingga terguling-guling, tersembunyi di balik sebuah pohon besar dan rindang.
Hahu-hahu-hahu… teriak si gorila sambil terus berlari menjauh.
Buyut terlindung berkat dahan-dahan pohon itu yang menjulai rendah, sehingga rombongan pengejar tidak melihat keberadaannya dan terus saja mengejar ke arah mana sosok si gorila menghilang.
“Thanks Toing,” desis Buyut sembari terus mengawasi ketujuh orang yang berlari mengejar si gorila. “Gue gak akan lupa jasa lu.” (Azeekk.)
Para pengejar benar-benar tidak menyadari keberadaan si Buyut, padahal mereka semua berlari persis di sisi keberadaan si Buyut yang tertutup lebatnya dedaunan. Wah, hebat juga si Toing, salut dah buat ente Toing, rela berkorban diri dikejar-kejar orang banyak demi sahabat. (E-eeh, mang ente temenan ma si Toing, Yut?)
Tanpa membuang masa Buyut keluar dari persembunyiannya dan berlari kencang berlawanan arah dari para pengejar yang mengikuti arah si gorila.
Lama berlari, Buyut hentikan langkah, berpaling ke belakang. Yakin tidak ada yang mengikuti, Buyut menghempaskan napas lega, terbungkuk-bungkuk mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal.
Seolah baru menyadari jika di depan sana ada keramaian, Buyut memerhatikan lebih lanjut. Sejumlah orang tengah menikmati pagelaran musik pantai. Buyut mendekati keramaian tersebut.
Memang benar, di sana tengah ada satu pagelaran musik. Pagelaran musik tersebut mempertunjukkan sejumlah instrumen tradisional yang dimainkan berkolaborasi dengan alat musik modern. Yang mampu menghasilkan irama menyenangkan di telinga mereka-mereka yang menyaksikan. Pagelaran tersebut diadakan guna menarik perhatian para wisatawan dan tentunya sekalian untuk menghibur mereka-mereka yang datang berwisata ke daerah kepulauan tersebut.
Buyut tersenyum, jika sebelumnya ia terus dikejar-kejar kesedihan dan kecemasan sekarang di wajah pria tersebuut justru terlihat kebalikannya. Suasana hati Buyut dengan cepat berubah drastis saat melihat sejumlah orang di panggung rendah sana memainkan alat musik tradisional.
Ahh, satu lagi kesenian warisan leluhur negeri ini yang mesti dilestarikan. Oleh karena itu, semakin bersemangat lah si Buyut, bergabung dengan sejumlah wisatawan di sana.
Buyut melangkah sambil sesekali bergoyang riang mengikuti irama yang melantun. Tidak Buyut, sejumlah orang yang ada di sana juga sama. Meski gerak dan liuk tubuh mereka berbeda satu dengan yang lain, namun tetap mengikuti beat dari musik itu sendiri, sehingga terlihat cukup pantas.
Tengah asik melangkah riang layaknya anak kecil di taman yang indah, tanpa disengaja Buyut menubruk seorang wanita. Walau tidak kencang dan tidak sampai jatuh ke pasir, namun…
“O-ouww,” bola mata si Buyut seolah lepas dari rongganya.
Ternyata perempuan muda yang disenggol si Buyut adalah Fitria, anak tertua dari Bu Sekar. Keruan saja Buyut menjadi ketakutan, dan ketakutan itu semakin kentara tatkala ia menyadari jika Bu Sekar ternyata berada di situ juga, bahkan si bungsu Inar juga hadir. Buyut semakin pucat, keringat dingin mengucur deras...
(Set-dah… nape keringet ente jadi banyak gitu, Yut? Alamak… dari mane datengnye tuh air, kok tahu-tahu ngucur deres dari kepala ente…?! Baahh…)
“Ma-maap, sa-saya gak-gak sengaja,” ujar Buyut pada Fitria, dan si Buyut pun ketularan penyakit si Lipul. “Maap Tante, he-he, keasikan joget..” Buyut memaksa tersenyum dan kemudian menelan ludah sendiri memandang pada Bu Sekar.
“Hati-hati, dong…!” tegur Fitria.
Namun Buyut boleh bernapas lega, soalnya Bu Sekar hanya menanggapi dengan senyuman. Meski heran, Buyut balas senyuman orang dengan anggukan kepala.
“Gak gabung sama teman-temanmu?” tanya Bu Sekar.
“E-eh, gak tau mereka kemana, Tan. Tadi pas keluar kita gak barengan.”
“Hoo, pantesan…”sahut Bu Sekar dengan senyuman.
“Mereka di sebelah sana tuh!” timpal Fitria.
“Ouh ya?” sahut Buyut dengan ekspresi yang… entahlah. (-_- mulaiii… penyakit kalo ketemu cewek cakep, haih!!!)
Memang benar, dari kejauhan Buyut melihat sahabat-sahabatnya tengah berbincang dengan beberapa orang. Dan ia bisa mengenali, itu Om Granito, Tante Selsa  dan anak mereka si Desy alias Desol, juga si Fahmi dan si Nandar ada di sana.
“Makasih ya. Mari Tan, Mbak,” Buyut berpamit diri dengan sopan.
“Mari-mari,” balas Bu Sekar, Fitria dan Inar hampir berbarengan.
Buyut melangkah cepat. Buyut bisa memastikan jika Om Granito sekeluarga tidak lagi mencurigai sahabat-sahabatnya di sana. Usaha si Fahmi berjalan sukses, pikirnya. Ahh, syukurlah jika kesalahpahaman antara Buyut dan kawan-kawan dengan keluarga Om Granito bisa terurai manis.
“Oi, Yut,” panggil si Erri. “Dari mane aje lu?”
“Kagak dari mane-mane,” Buyut merahasiakan perihal dikejar-kejar orang tak dikenal tadi. “Eeh… Om, Tante, Desy.” Om Granito, Tante Selsa dan Desy sama tersenyum membalas sapaan si Buyut. “Ni, acara apaan, sih?” tanya Buyut sembari melihat keramaian dan sejumlah pemusik di atas panggung rendah.
“Pagelaran musik pantai,” jawab Desy.
“Eeh gue ada ide nih,” ujar Buyut spontan.
Kesepuluh orang tersebut merapat satu sama lain mengikuti ajakan Buyut. Buyut punya satu rencana untuk membuat suasana pagelaran musik itu lebih meriah. Yang lain mengangguk-angguk, mengerti, dan sama setuju dengan ide si Buyut tersebut.
“Baah…” seru Om Granito. “Yang tak kusangka, rupa-rupanya otak kau itu encer juga.” Om Granito tertawa lepas dengan ide yang ia dengar dari si Buyut barusan dan ditanggapi dengan anggukan setuju dari yang lain.
Jadi tidak menunggu lama Buyut dan kawan-kawan segera saja melangkah menuju panggung rendah, sedangkan Om Granito dan keluarga tetap berada di posisi semula, di sisi kanan panggung. Pria plontos geleng-gelengkan kepala, ada-ada saja ide mereka, begitulah yang tengah ia pikirkan. Begitupun halnya dengan sang istri, Tante Selsa tersenyum geli membayangkan apa yang akan terjadi, sementara Desy bergelayut mesra di pundak sang ibu.
Saat ketujuh orang tersebut bergerak mendekati panggung, menarik perhatian Bu Sekar dan kedua anak gadisnya. Heran plus penasaran, ketiganya bergerak mendekati panggung.
Buyut menaiki panggung, membicarakan sesuatu pada pimpinan orkestra. Dan pemimpin orkestra tersebut sangat mengerti dan menghargai apa yang diucapkan oleh Buyut. Sementara Erri, Rahab, Conni, Lipul, Fahmi dan si Nandar tetap berada di bawah panggung, panggung itu sendiri cukup besar dan hanya setinggi lutut orang dewasa saja.
“Sundul Gan…!”
Tiba-tiba Buyut berteriak kencang dengan bantuan wireless microphone. Bersamaan dengan teriakan si Buyut, alunan irama nge-beat menghentak pendengaran.
Bersamaan dengan itu pula Erri dan Rahab sama melompat gesit ke atas panggung menemani si Buyut yang mulai melakukan gerakan-gerakan tarian yang terlihat cukup simple namun atraktif. Sedangkan Conni, Lipul dan Fahmi juga Nandar pun melakukan gerakan yang sama di bawah panggung.
Awalnya, semua orang sama terdiam, bingung dengan apa yang dilakukan si Buyut dan kawan-kawannya. Lama kelamaan, mereka justru mengikuti gerakan-gerakan tarian yang diperagakan oleh ketujuh orang di depan mereka tersebut. Gerakan itu sungguh terlihat asyik dan menyenangkan, tidak terlalu rumit hanya terdiri dari lima-enam gerakan saja.
It’s so simple, but seem atracktive. See what I mean?
Dimulai dengan Bu Sekar, Fitria, dan Inar yang kala itu telah berada di barisan terdepan, mengikuti gerakan Buyut dan kawan-kawan, dan detik berikutnya, semua yang hadir sama bergoyang riang. Menari dengan gerak dan gaya yang sama dengan mereka yang di depan sana. Bahkan Om Granito dan keluarga juga terlihat melakukan gerakan yang sama.
Suasana di pantai semakin meriah. Menari dengan tawa lepas mengiringi gerakan mereka, sebagian lagi tersenyum malu-malu, lainnya terlihat dengan semangat membara. Besar-kecil, tua-muda, anak-anak juga dewasa, pria maupun wanita, sama berjoget dengan suasana hati yang ceria. Penduduk dan turis lokal, bahkan para turis mancanegara sekalipun, sama berjingkrak ria.
Digoyang-digoyang… Digoyang-goyang-goyang sundul
Disundul-disundul… Disundul-sundul-sundul goyang
Mari kita ikut suara gendang……………
Coba dengarkan suara seruling …………….
Hanya syair itulah yang terdengar dilantunkan Buyut dan kawan-kawannya, berulang-ulang sedemikian rupa mengiringi lantunan musik yang atraktif.
Semua orang menari dengan keceriaan yang terlihat jelas dari wajah masing-masing. Anak-anak yang dengan semangat memamerkan gerakan mereka pada orang tua, dan para orang tua yang gerakan mereka patah-patah mengiringi sang anak. Sang suami yang unjuk kebolehan menari pada sang istri, dan sang istri yang malu-malu mengikuti gerakan sang suami. Muda-mudi yang sama kompak dalam gerakan. Ahh… begitu cerianya mereka tanpa harus melakukan gerakan-gerakan yang ditabukan, sederhana namun lebih atraktif dan (gue rasa) lebih menyegarkan dan menyehatkan.
Setelah cukup lama mereka menari serentak bersama, di atas panggung tanpa sengaja Buyut memandang ke arah kanan. Sepasang mata membelalak lebar. Di ujung pandangan, si girola berlari ke arah keramaian, dan tujuh orang mengejar gorila tersebut. Kontan saja Buyut ketakutan.
Dengan cepat Buyut menarik tangan Erri dan Rahab, melompat turun dari atas panggung walau musik masih terus mengalun.
“Ri, Hab, kabur...”
“Apaan…?!” sahut Rahab dan Erri berbarengan.
Detik itu suara-suara histeris terdengar saat si gorila jantan berbulu hitam menghampiri keramaian. (Waduh, kacau dah ni musik pantainya… hedeuuh)
Semakin lama, teriakan orang-orang tersebut semakin terdengar jelas, sambung menyambung menjadi satu… (Oops, maap-maap) Orang-orang berlarian tak tentu arah, takut pada gorila besar yang muncul di tengah keramaian.
Ahh, suasana yang tadi bwgitu akrab dan ceria berubah heboh. Jerit sana, jerit sini. Lari sana, lari sini. Bahkan, sampai ada yang tersungkur segala. Oops… malah ada pula yang saling bertubrukan. Kacau, benar-benar kacau.
Buyut, Erri, dan Rahab yang telah turun dari atas panggung, berlari ke arah Om Granito dan keluarga. Conni, Lipul, Fahmi, dan Nandar yang awalnya tidak mengerti kenapa mereka juga harus ikut berlari, sama terheran-heran. Namun, begitu Buyut menunjuk-nunjuk ke belakang, keruan saja keenam yang lainnya sama kaget ketakutan.
He-he, si Buyut sendiri berlari menghindari kejaran para dokter kejiwaan di belakang si gorila itu. Nah, enam yang lain sudah dapat dipastikan berlari kencang karena ketakutan pada si gorila.
“Fahmi, kapal…!” teriak si Buyut memberi komando.
“Siap, Boss…!” Teriak Fahmi mengerti. Maka, dengan ajian: sapu angin (hedeuuh), Fahmi berlari sangat kencang mendahului mereka semua.
(Jiaah… ternyata ooh ternyata, si Fahmi masih kalah cepat dari si Nandar yang berlari seolah melayang mendahuluinya, sambil berteriak ketakutan, histeris… -_-‘)
“Tulang, Nantulang, Desol… Aku balik dulu yaa…” Fahmi berpamit diri dengan teriakan lantang. Di depannya, si Nandar semakin jauh saja.
“Hati-hati…!” Teriak Om Granito.

“Yut, ada apaan, sih…?!” tanya Erri di sela larinya.
“Si Bule nyang kemaren, tuh!”
“Waaa…” yang membuat si Erri kaget setengah mati bukanlah pada sosok si gorila di belakang, juga bukan pada Jono si dokter bule, apalagi pada para pengejar lainnya. Namun ternyata ooh ternyata, yang membuat pria berdarah Jawa ini kaget setengah modar, adalah seorang wanita yang ikut mengejar dengan dandanan ala-ala India.
(Oops,  jiahaha… ntu, kan cewek India nyang mirip Ely Su****, huahahah…)
Erri semakin mempercepat larinya, bahkan mendahului si Buyut. Tidak mau kalah, Conni dan Lipul juga si Rahab yang ketakutan karena mengira dikejar si gorila di belakang sana, juga mempercepat lari mereka, bahkan mendahului si Buyut.
Kaget, sekaligus terheran-heran pada laju lari rekan-rekannya tersebut, Buyut tambah gas, jadi semakin kencang dan mendahului keempat rekannya yang lain.
“Oom… kami pamit…” teriak Buyut pada keluarga Om Granito yang sepertinya tidak terpengaruh akan keberadaan si gorila. Malah sama terpingkal-pingkal melihat adegan konyol tersebut.
“Desy,” Teriak Rahab tak mau kalah. “Abang pulang yaaak…”
“Iya Bang…” jawab Desy ikut-ikutan berteriak lantang.
Di depan sana, Fahmi sudah berada di atas kapal dan telah menyalakan mesin, yacht terdengar menderu-deru. Begitupun halnya dengan si Nandar, ia telah melepas sangkutan tali pengikat kapal, dan tergesa-gesa menaikkan dapra.
“Jangan kabur…!” teriak pengejar pada si gorila.
“Hey you, stay there where you are…!” teriak si Jono dialamatkan pada si Buyut pastinya.
 “Mera pyar hai… mera pyar hai…!” teriak si cewek India, pastinya dialamatkan pada si Erri. (Cintaku… cintaku…!)
“Hahu-hahu-hahuuu…” jerit si gorila. (Tolong-tolong-toluuong…)
Rahab dan kawan-kawan sama mengarah ke dermaga, di ujung dermaga telah menunggu kapal mereka yang siap lepas landas. (Hadeuuh, mangnya ni kapal terbang? Bodo amat, lanjuut…)
Si gorila hitam alias si Toing tahu-tahu semakin dekat dengan Rahab dan Kawan-kawan, hanya terpaut tiga-empat meter saja. Sedangkan para pengejar terpaut dengan jarak yang sama pula di belakang sang gorila. Kontan saja Conni, Lipul, Rahab, Erri, dan si Buyut melompat sembari menjerit kencang. (Huahuahuahu, malah melompat ke laut. Ampun deh…)
“Waaa…”
Cbyurrr…
Om Granito, Tante Selsa, Desy alias Desol malah tertawa terbahak-bahak melihat aksi mereka semua. Pun begitu pula halnya dengan Bu Sekar, Fitria, dan Inar yang juga terpingkal-pingkal.


***…TAMAT…***
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.