Senin, 08 Februari 2016

Member FC - Kite Lagi Liburan [Chapter 11 - Final Chapter]

Akan Gue Ingat Jasa Lo


Kembali pada Buyut yang tengah duduk berdua dengan si gorila galau.
Mereka sama berdiam diri menatap lurus ke lautan. Tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, tidak pula isak tangis seperti sebelumnya. Dua kaki sama selonjoran di atas hamparan pasir, dua tangan sama-sama diletakkan di pangkuan.
Tidak berapa lama, perhatiaan kedua makhluk beda spesies ini terpecah. Sama tertarik pada sejumlah orang di ujung kanan sana. Ada rasa heran di wajah keduanya, bahkan sama berkerut aneh.
Tujuh orang berlari ke arah si Buyut dan gorila. Tiga orang di antaranya adalah dokter, dengan mengenakan setelan khas jubah putih-putih, dan salah seorang dari ketiganya adalah bule. Sedangkan empat yang lainnya orang-orang dari penangkaran hewan, dua orang di antaranya membawa satu serokan ukuran besar, sangat besar. Sedangkan dua orang sisanya membawa segulung tali.
“Itu mereka!”
“Ayoo, tangkap…!”
Buyut dan si gorila kaget bukan kepalang. Seolah-olah ketujuh orang tersebut berniat menangkap mereka. Buyut mengerutkan dahi, kalau terhadap para pawang dari penangkaran hewan tersebut ia tidak heran, jelas yang mereka tuju adalah si gorila jantan di samping kanannya itu. Nah, ini kenapa dia juga dibawa-bawa segala? Ia dengan jelas bisa memastikan jika ketiga orang yang terlihat seperti dokter tersebut juga menunjuk-nunjuk pada dirinya.
Namun tatkala Buyut mencoba memerhatikan dengan seksama para dokter itu, sontak wajahnya semakin berkerut tak keru-keruan.
Betapa tidak, ternyata dokter bule itu adalah orang yang sama dengan bule beberapa hari yang lalu. Yang itu tuh, yang kejadian di toilet umum di dekat pasar tempo hari, he-he. Sepertinya tuh dokter adalah dokter spesialis kejiwaan, dan dia berpikir jika si Buyut adalah salah satu dari sejumlah pasien yang harus mendapat perawatannya.
(Jiahahha…) Pada dada kiri seragam kedokterannya tersemat emblem nama; Jono. (Beuh, bukannya Jono tuh nama Indonesia? Kok bule bisa pake nama itu juga? Kalo Jhonny lebih masuk akal. Ya sudah lah, lanjuut…)
Mau tidak mau, terpaksa Buyut dan si gorila cabut dari sana. Berlari sekencang mungkin. Kadang Buyut berada di depan si gorila, di lain waktu justru si gorila yang berada paling depan. (Hahha konyoll, napa tuh gorila larinya kek manusia?)
“Sial…” maki Buyut. “Tuh bule pasti ngira gue or-gil nih. Aseemm…”
“Berhenti! Woii… berhenti!”
“Sorry, yee…” cibir Buyut. “Enak aje main tangkep, beuuhh... Sok udag enggalan aritiasa mahh…!” (Ayo kejar kalau bisa…!—sejak kapan Buyut bisa berbahasa Sunda, ya?)
Jadilah peristiwa kejar-kejaran tersebut berlangsung riuh. Buyut dan gorila berlari di sepanjang bibir pantai hingga berbasah-basahan, begitupun dengan mereka-mereka yang mengejar keduanya. Lalu mengarah ke kerimbunan pepohonan, terpaksa para pengejar ikut juga berlari ke arah tersebut. Seorang dari para pengejar secara tidak sengaja menginjak patahan ranting, ia melompat-lompat dengan satu kaki sementara satu kaki lagi menahan sakit.
Melihat pengejar menginjak ranting dan berlari sembari melompat-lompat, bahkan ada juga dari tim dokter yang terjatuh karena sejumlah dahan pohon menghalang langkahnya, kontan saja Buyut dan si gorila terbahak-bahak sembari melompat-lompat kegirangan mengejek para pengejar.
(Gila juga tuh mereka berdua, masak pake tos-tosan segala, ha-ha-ha)
Kembali keduanya berlari menjauh. Di satu kesempatan, Buyut dan si gorila berlari saling berdampingan, dengan tiba-tiba si gorila mendorong Buyut ke sisi kanan hingga terguling-guling, tersembunyi di balik sebuah pohon besar dan rindang.
Hahu-hahu-hahu… teriak si gorila sambil terus berlari menjauh.
Buyut terlindung berkat dahan-dahan pohon itu yang menjulai rendah, sehingga rombongan pengejar tidak melihat keberadaannya dan terus saja mengejar ke arah mana sosok si gorila menghilang.
“Thanks Toing,” desis Buyut sembari terus mengawasi ketujuh orang yang berlari mengejar si gorila. “Gue gak akan lupa jasa lu.” (Azeekk.)
Para pengejar benar-benar tidak menyadari keberadaan si Buyut, padahal mereka semua berlari persis di sisi keberadaan si Buyut yang tertutup lebatnya dedaunan. Wah, hebat juga si Toing, salut dah buat ente Toing, rela berkorban diri dikejar-kejar orang banyak demi sahabat. (E-eeh, mang ente temenan ma si Toing, Yut?)
Tanpa membuang masa Buyut keluar dari persembunyiannya dan berlari kencang berlawanan arah dari para pengejar yang mengikuti arah si gorila.
Lama berlari, Buyut hentikan langkah, berpaling ke belakang. Yakin tidak ada yang mengikuti, Buyut menghempaskan napas lega, terbungkuk-bungkuk mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal.
Seolah baru menyadari jika di depan sana ada keramaian, Buyut memerhatikan lebih lanjut. Sejumlah orang tengah menikmati pagelaran musik pantai. Buyut mendekati keramaian tersebut.
Memang benar, di sana tengah ada satu pagelaran musik. Pagelaran musik tersebut mempertunjukkan sejumlah instrumen tradisional yang dimainkan berkolaborasi dengan alat musik modern. Yang mampu menghasilkan irama menyenangkan di telinga mereka-mereka yang menyaksikan. Pagelaran tersebut diadakan guna menarik perhatian para wisatawan dan tentunya sekalian untuk menghibur mereka-mereka yang datang berwisata ke daerah kepulauan tersebut.
Buyut tersenyum, jika sebelumnya ia terus dikejar-kejar kesedihan dan kecemasan sekarang di wajah pria tersebuut justru terlihat kebalikannya. Suasana hati Buyut dengan cepat berubah drastis saat melihat sejumlah orang di panggung rendah sana memainkan alat musik tradisional.
Ahh, satu lagi kesenian warisan leluhur negeri ini yang mesti dilestarikan. Oleh karena itu, semakin bersemangat lah si Buyut, bergabung dengan sejumlah wisatawan di sana.
Buyut melangkah sambil sesekali bergoyang riang mengikuti irama yang melantun. Tidak Buyut, sejumlah orang yang ada di sana juga sama. Meski gerak dan liuk tubuh mereka berbeda satu dengan yang lain, namun tetap mengikuti beat dari musik itu sendiri, sehingga terlihat cukup pantas.
Tengah asik melangkah riang layaknya anak kecil di taman yang indah, tanpa disengaja Buyut menubruk seorang wanita. Walau tidak kencang dan tidak sampai jatuh ke pasir, namun…
“O-ouww,” bola mata si Buyut seolah lepas dari rongganya.
Ternyata perempuan muda yang disenggol si Buyut adalah Fitria, anak tertua dari Bu Sekar. Keruan saja Buyut menjadi ketakutan, dan ketakutan itu semakin kentara tatkala ia menyadari jika Bu Sekar ternyata berada di situ juga, bahkan si bungsu Inar juga hadir. Buyut semakin pucat, keringat dingin mengucur deras...
(Set-dah… nape keringet ente jadi banyak gitu, Yut? Alamak… dari mane datengnye tuh air, kok tahu-tahu ngucur deres dari kepala ente…?! Baahh…)
“Ma-maap, sa-saya gak-gak sengaja,” ujar Buyut pada Fitria, dan si Buyut pun ketularan penyakit si Lipul. “Maap Tante, he-he, keasikan joget..” Buyut memaksa tersenyum dan kemudian menelan ludah sendiri memandang pada Bu Sekar.
“Hati-hati, dong…!” tegur Fitria.
Namun Buyut boleh bernapas lega, soalnya Bu Sekar hanya menanggapi dengan senyuman. Meski heran, Buyut balas senyuman orang dengan anggukan kepala.
“Gak gabung sama teman-temanmu?” tanya Bu Sekar.
“E-eh, gak tau mereka kemana, Tan. Tadi pas keluar kita gak barengan.”
“Hoo, pantesan…”sahut Bu Sekar dengan senyuman.
“Mereka di sebelah sana tuh!” timpal Fitria.
“Ouh ya?” sahut Buyut dengan ekspresi yang… entahlah. (-_- mulaiii… penyakit kalo ketemu cewek cakep, haih!!!)
Memang benar, dari kejauhan Buyut melihat sahabat-sahabatnya tengah berbincang dengan beberapa orang. Dan ia bisa mengenali, itu Om Granito, Tante Selsa  dan anak mereka si Desy alias Desol, juga si Fahmi dan si Nandar ada di sana.
“Makasih ya. Mari Tan, Mbak,” Buyut berpamit diri dengan sopan.
“Mari-mari,” balas Bu Sekar, Fitria dan Inar hampir berbarengan.
Buyut melangkah cepat. Buyut bisa memastikan jika Om Granito sekeluarga tidak lagi mencurigai sahabat-sahabatnya di sana. Usaha si Fahmi berjalan sukses, pikirnya. Ahh, syukurlah jika kesalahpahaman antara Buyut dan kawan-kawan dengan keluarga Om Granito bisa terurai manis.
“Oi, Yut,” panggil si Erri. “Dari mane aje lu?”
“Kagak dari mane-mane,” Buyut merahasiakan perihal dikejar-kejar orang tak dikenal tadi. “Eeh… Om, Tante, Desy.” Om Granito, Tante Selsa dan Desy sama tersenyum membalas sapaan si Buyut. “Ni, acara apaan, sih?” tanya Buyut sembari melihat keramaian dan sejumlah pemusik di atas panggung rendah.
“Pagelaran musik pantai,” jawab Desy.
“Eeh gue ada ide nih,” ujar Buyut spontan.
Kesepuluh orang tersebut merapat satu sama lain mengikuti ajakan Buyut. Buyut punya satu rencana untuk membuat suasana pagelaran musik itu lebih meriah. Yang lain mengangguk-angguk, mengerti, dan sama setuju dengan ide si Buyut tersebut.
“Baah…” seru Om Granito. “Yang tak kusangka, rupa-rupanya otak kau itu encer juga.” Om Granito tertawa lepas dengan ide yang ia dengar dari si Buyut barusan dan ditanggapi dengan anggukan setuju dari yang lain.
Jadi tidak menunggu lama Buyut dan kawan-kawan segera saja melangkah menuju panggung rendah, sedangkan Om Granito dan keluarga tetap berada di posisi semula, di sisi kanan panggung. Pria plontos geleng-gelengkan kepala, ada-ada saja ide mereka, begitulah yang tengah ia pikirkan. Begitupun halnya dengan sang istri, Tante Selsa tersenyum geli membayangkan apa yang akan terjadi, sementara Desy bergelayut mesra di pundak sang ibu.
Saat ketujuh orang tersebut bergerak mendekati panggung, menarik perhatian Bu Sekar dan kedua anak gadisnya. Heran plus penasaran, ketiganya bergerak mendekati panggung.
Buyut menaiki panggung, membicarakan sesuatu pada pimpinan orkestra. Dan pemimpin orkestra tersebut sangat mengerti dan menghargai apa yang diucapkan oleh Buyut. Sementara Erri, Rahab, Conni, Lipul, Fahmi dan si Nandar tetap berada di bawah panggung, panggung itu sendiri cukup besar dan hanya setinggi lutut orang dewasa saja.
“Sundul Gan…!”
Tiba-tiba Buyut berteriak kencang dengan bantuan wireless microphone. Bersamaan dengan teriakan si Buyut, alunan irama nge-beat menghentak pendengaran.
Bersamaan dengan itu pula Erri dan Rahab sama melompat gesit ke atas panggung menemani si Buyut yang mulai melakukan gerakan-gerakan tarian yang terlihat cukup simple namun atraktif. Sedangkan Conni, Lipul dan Fahmi juga Nandar pun melakukan gerakan yang sama di bawah panggung.
Awalnya, semua orang sama terdiam, bingung dengan apa yang dilakukan si Buyut dan kawan-kawannya. Lama kelamaan, mereka justru mengikuti gerakan-gerakan tarian yang diperagakan oleh ketujuh orang di depan mereka tersebut. Gerakan itu sungguh terlihat asyik dan menyenangkan, tidak terlalu rumit hanya terdiri dari lima-enam gerakan saja.
It’s so simple, but seem atracktive. See what I mean?
Dimulai dengan Bu Sekar, Fitria, dan Inar yang kala itu telah berada di barisan terdepan, mengikuti gerakan Buyut dan kawan-kawan, dan detik berikutnya, semua yang hadir sama bergoyang riang. Menari dengan gerak dan gaya yang sama dengan mereka yang di depan sana. Bahkan Om Granito dan keluarga juga terlihat melakukan gerakan yang sama.
Suasana di pantai semakin meriah. Menari dengan tawa lepas mengiringi gerakan mereka, sebagian lagi tersenyum malu-malu, lainnya terlihat dengan semangat membara. Besar-kecil, tua-muda, anak-anak juga dewasa, pria maupun wanita, sama berjoget dengan suasana hati yang ceria. Penduduk dan turis lokal, bahkan para turis mancanegara sekalipun, sama berjingkrak ria.
Digoyang-digoyang… Digoyang-goyang-goyang sundul
Disundul-disundul… Disundul-sundul-sundul goyang
Mari kita ikut suara gendang……………
Coba dengarkan suara seruling …………….
Hanya syair itulah yang terdengar dilantunkan Buyut dan kawan-kawannya, berulang-ulang sedemikian rupa mengiringi lantunan musik yang atraktif.
Semua orang menari dengan keceriaan yang terlihat jelas dari wajah masing-masing. Anak-anak yang dengan semangat memamerkan gerakan mereka pada orang tua, dan para orang tua yang gerakan mereka patah-patah mengiringi sang anak. Sang suami yang unjuk kebolehan menari pada sang istri, dan sang istri yang malu-malu mengikuti gerakan sang suami. Muda-mudi yang sama kompak dalam gerakan. Ahh… begitu cerianya mereka tanpa harus melakukan gerakan-gerakan yang ditabukan, sederhana namun lebih atraktif dan (gue rasa) lebih menyegarkan dan menyehatkan.
Setelah cukup lama mereka menari serentak bersama, di atas panggung tanpa sengaja Buyut memandang ke arah kanan. Sepasang mata membelalak lebar. Di ujung pandangan, si girola berlari ke arah keramaian, dan tujuh orang mengejar gorila tersebut. Kontan saja Buyut ketakutan.
Dengan cepat Buyut menarik tangan Erri dan Rahab, melompat turun dari atas panggung walau musik masih terus mengalun.
“Ri, Hab, kabur...”
“Apaan…?!” sahut Rahab dan Erri berbarengan.
Detik itu suara-suara histeris terdengar saat si gorila jantan berbulu hitam menghampiri keramaian. (Waduh, kacau dah ni musik pantainya… hedeuuh)
Semakin lama, teriakan orang-orang tersebut semakin terdengar jelas, sambung menyambung menjadi satu… (Oops, maap-maap) Orang-orang berlarian tak tentu arah, takut pada gorila besar yang muncul di tengah keramaian.
Ahh, suasana yang tadi bwgitu akrab dan ceria berubah heboh. Jerit sana, jerit sini. Lari sana, lari sini. Bahkan, sampai ada yang tersungkur segala. Oops… malah ada pula yang saling bertubrukan. Kacau, benar-benar kacau.
Buyut, Erri, dan Rahab yang telah turun dari atas panggung, berlari ke arah Om Granito dan keluarga. Conni, Lipul, Fahmi, dan Nandar yang awalnya tidak mengerti kenapa mereka juga harus ikut berlari, sama terheran-heran. Namun, begitu Buyut menunjuk-nunjuk ke belakang, keruan saja keenam yang lainnya sama kaget ketakutan.
He-he, si Buyut sendiri berlari menghindari kejaran para dokter kejiwaan di belakang si gorila itu. Nah, enam yang lain sudah dapat dipastikan berlari kencang karena ketakutan pada si gorila.
“Fahmi, kapal…!” teriak si Buyut memberi komando.
“Siap, Boss…!” Teriak Fahmi mengerti. Maka, dengan ajian: sapu angin (hedeuuh), Fahmi berlari sangat kencang mendahului mereka semua.
(Jiaah… ternyata ooh ternyata, si Fahmi masih kalah cepat dari si Nandar yang berlari seolah melayang mendahuluinya, sambil berteriak ketakutan, histeris… -_-‘)
“Tulang, Nantulang, Desol… Aku balik dulu yaa…” Fahmi berpamit diri dengan teriakan lantang. Di depannya, si Nandar semakin jauh saja.
“Hati-hati…!” Teriak Om Granito.

“Yut, ada apaan, sih…?!” tanya Erri di sela larinya.
“Si Bule nyang kemaren, tuh!”
“Waaa…” yang membuat si Erri kaget setengah mati bukanlah pada sosok si gorila di belakang, juga bukan pada Jono si dokter bule, apalagi pada para pengejar lainnya. Namun ternyata ooh ternyata, yang membuat pria berdarah Jawa ini kaget setengah modar, adalah seorang wanita yang ikut mengejar dengan dandanan ala-ala India.
(Oops,  jiahaha… ntu, kan cewek India nyang mirip Ely Su****, huahahah…)
Erri semakin mempercepat larinya, bahkan mendahului si Buyut. Tidak mau kalah, Conni dan Lipul juga si Rahab yang ketakutan karena mengira dikejar si gorila di belakang sana, juga mempercepat lari mereka, bahkan mendahului si Buyut.
Kaget, sekaligus terheran-heran pada laju lari rekan-rekannya tersebut, Buyut tambah gas, jadi semakin kencang dan mendahului keempat rekannya yang lain.
“Oom… kami pamit…” teriak Buyut pada keluarga Om Granito yang sepertinya tidak terpengaruh akan keberadaan si gorila. Malah sama terpingkal-pingkal melihat adegan konyol tersebut.
“Desy,” Teriak Rahab tak mau kalah. “Abang pulang yaaak…”
“Iya Bang…” jawab Desy ikut-ikutan berteriak lantang.
Di depan sana, Fahmi sudah berada di atas kapal dan telah menyalakan mesin, yacht terdengar menderu-deru. Begitupun halnya dengan si Nandar, ia telah melepas sangkutan tali pengikat kapal, dan tergesa-gesa menaikkan dapra.
“Jangan kabur…!” teriak pengejar pada si gorila.
“Hey you, stay there where you are…!” teriak si Jono dialamatkan pada si Buyut pastinya.
 “Mera pyar hai… mera pyar hai…!” teriak si cewek India, pastinya dialamatkan pada si Erri. (Cintaku… cintaku…!)
“Hahu-hahu-hahuuu…” jerit si gorila. (Tolong-tolong-toluuong…)
Rahab dan kawan-kawan sama mengarah ke dermaga, di ujung dermaga telah menunggu kapal mereka yang siap lepas landas. (Hadeuuh, mangnya ni kapal terbang? Bodo amat, lanjuut…)
Si gorila hitam alias si Toing tahu-tahu semakin dekat dengan Rahab dan Kawan-kawan, hanya terpaut tiga-empat meter saja. Sedangkan para pengejar terpaut dengan jarak yang sama pula di belakang sang gorila. Kontan saja Conni, Lipul, Rahab, Erri, dan si Buyut melompat sembari menjerit kencang. (Huahuahuahu, malah melompat ke laut. Ampun deh…)
“Waaa…”
Cbyurrr…
Om Granito, Tante Selsa, Desy alias Desol malah tertawa terbahak-bahak melihat aksi mereka semua. Pun begitu pula halnya dengan Bu Sekar, Fitria, dan Inar yang juga terpingkal-pingkal.


***…TAMAT…***
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Sabtu, 30 Januari 2016

Member FC - Kite Lagi Liburan [Chapter 9 - 10]


Chapter 9

Fitri oh Fitri


“Hahaha… Yang ada-ada sajalah Abang ini. Tak mungkinlah cinta bisa didapat lewat mimpi,” tepis Fahmi, tidak percaya dengan segala hal yang baru saja terjadi.

Ketujuh orang tersebut berada di ruang tengah. Erri, Rahab, Conni, Lipul dan Buyut telah berganti pakaian. Tidak ada lagi yang terlihat hitam gosong, tidak pula asap tipis yang mengepul, pun dengan wajah mereka.
(Lhoo?! Kok bisa rambut mereka kembali utuh, pan tadi gosong? Waah waah sakti nian euy)

“Tau tuh, si Erri,” dengus Rahab mengucek-ucek rambutnya yang masih basah.

“Mang, tuh kertas mantra lu beli dimana sih, Ri?!” tanya Buyut.

“Di pasar pan, tempat kite dikejar-kejar si bule,” jawab Erri. “Ama pedagang India,”

“Hee…?!” Buyut mengernyit.

“Memangnya siapa yang mau Bang Rahab santet?” tanya Fahmi.

“Bukan santet Farhat, eeh Fahmi,” timpal Erri.

“Hehehe, sama saja nampak sama aku, Bang,” tawa Fahmi.

“Itu, si Rahab lagi kesengsem ma cewek yang namanya Desy,” sahut Conni menggoda si Rahab.

“Desy?” ulang Fahmi. “Eiih, jangan pulak Abang bilang dia pake nama Desol?!”

“Lhaa, kok sampeyan niku ngerti?!” Conni sedikit heran.

“Baah, yang kenallah aku, Mbak, tentunya,” senyum Fahmi. “Kenal dekat malah,”

“Ouh, ya?” Rahab kembali bersemangat. (Hehh, dapat angin lagi dah tuh)

“Sama Bapaknya itu, aku ini satu marga Bang,” jawab Fahmi. “Jadi, ya bisa dibilang Bapaknya itu Tulang aku Bang..” (Tulang = Paman)

“Ouh, yaaa…?” wajah Rahab semakin berbinar-binar.

“Besok pagi biar aku jelaskan sama Tulang Granito, semuanya,” Fahmi menawarkan diri. Dan lagi, ia merasa kasihan pada si Rahab yang adalah bos pemilik kapal yang ia rawat walau pun inilah kali pertama dia bisa bersama-sama bosnya tersebut. “Jendral tenang saja, oke.”

Rahab kembali mendapat angin segar, tersenyum puas sembari menepuk-nepuk punggung si Fahmi. Begitu pun halnya dengan yang lain, utamanya si Lipul. Semoga besok si Fahmi dapat memberi pengertian pada Om Granito setidaknya meluruskan perihal kalung emas milik Tante Selsa yang ditemukan si Lipul. Konon pula masalah si Desy dengan si Rahab. (Yaah semoga, ane ikut doain kok, tenang aja^^)

Ponsel dalam kantong celana si Buyut berdering, panggilan masuk dari seseorang. Buyut mengeluarkan ponsel dan menjawab panggilan tersebut. Di layar ponselnya tertera nama seorang perempuan; Mimin.

“Hai, mbeb,” Buyut tersenyum manis. “Iya mbeb, gak tau nih mbeb… E-eeh?!” wajah Buyut berubah. Sedih ada, takut ada, cemas juga ada. “Mbeb, please…? Mbeeb jangan mbeb, pliss…”

Buyut tercenung memandang layar ponsel, panggilan itu telah berakhir hanya meninggalkan nada tuut-tuut-tuut berkepanjangan.

“Huaaa…”

Tiba-tiba saja Buyut menangis kencang, meraung sembari selonjoran di lantai ruangan. Kontan saja keenam lainnya, sama terperangah. Sedikit pun tidak mengerti.

“Huaaa… Mbeb…”

“Yut…!” tegur Erri. “Apa-apaan sih, lu? Tengah malam gini tereak-tereak gak karuan,”

“Huaaa… Mbeb,”

“Woi-woi-woii, Apaan sih?! Apa yang terjadi?” Rahab mengerutkan dahi.

“Kesambet setan mana kamu itu?!” timpal Conni.

“Huaaa…” tangis Buyut kian menjadi-jadi. “Hiks, hiks, si Fitri mutusin gue. Hiks, hiks, hiks…” Buyut terisak-isak. Kadang pelan, kadang lantang.

Aneh, udah kek orang sedang nyanyi saja pake titi nada segala. (Oops, sorry)

“Ya elaahh, Yut…” tukas Rahab. “Pan lu tinggal cari gantinye,”

“Huaaa…” Bukannya menjadi tenang, tangisan Buyut semakin keras, semakin kencang.

Tiba-tiba Buyut berdiri dibarengi tangisnya yang benar-benar aneh terdengar di telinga. Ia berlari keluar sambil menyambar gitarnya, yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka masih mendengar suara tangis Buyut yang diputus cintanya oleh sang kekasih, Fitri.

“Eeh, gak gawat tuh?” ujar Rahab. “Jangan-jangan tuh anak berpikiran pendek lagi,”

“Iye lu bener,” Erri menjadi cemas pada keadaan Buyut.

“Ng-nggak mu-mungkin laah!” timpal Lipul. (Perasaan ente baru ngomong deh, Pul. Sedari tadi kok gak da suaranya coba?)

“Emangnya lu…!” semprot Rahab.

“Huu, ditolak gak ditolak, lu mah gak ada sedih-sedihnya,” sambung Erri mengomeli si Lipul.

“Yo wes, mbok ya disusul wae de’e,” sahut Conni cemas.

Tanpa membuang masa, mereka keluar menyusul Buyut yang sudah hilang entah ke mana, begitu juga halnya dengan si Fahmi dan si Nandar.

Berenam mereka mencari keberadaan si Buyut, bukan apa-apa dalam keadaan seperti si Buyut sekarang ini tentu saja semua hal menjadi mungkin.

***

Buyut bernyanyi sedih di tepian pantai yang terlihat semakin temaram saja (ahh, pan ntu karena ente lagi sedih doang) Ia duduk di atas sebuah potongan batang pohon yang telah mati sembari memetik gitar kesayangannya. Wajahnya begitu sendu, sedih-sedan, sayu dan kuyu, pucat pasi (lhoo..??) kedua pipinya pun basah berlinangan air mata. (Oouuw, kacian)

Fitri ouh, Fitri ouh…
Fitri, I miss you… hiks hiks…
Fitri ouh, Fitri ouh…
Hiks hiks... Fitri, I love you…

Seperti itulah senandung yang ia ratapi, walaupun terdengar gajebo banget namun itulah perasaannya. Itulah yang sekarang ia rasakan, curahan hatinya.

Ahh, sepertinya malam ini akan berlalu dengan begitu banyak kesedihan.

***

Chapter 10

Sedih Yaa?


“Lu ke mana semalaman Yut?” tanya Erri. “Kita semua nyariin lu.”

Buyut hanya berdiam diri saja sembari memeluk gitar kesayangannya, duduk melamun memandang jauh, tak bergairah, di atas kursi rotan di beranda depan vila.

Di pagi hari ini kelima sahabat tersebut tidak melakukan jogging seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin karena situasi yang dari kemaren hingga pagi ini suasana hati mereka yang sedang kurang bagus, khususnya Rahab dan si Buyut yang baru diputus sang pacar yang menjadi penyebabnya.

“Gue gak ke mana-mana,” jawab Buyut datar, sementara pandangan matanya terus menerawang jauh.

“Semaleman kite nyariin lu,” ujar Rahab. “Bukannye nape-nape Yut, kite takut tali puser lu ternyata pendek, dan lu ngelakuin sesuatu nyang buruk.”
(Tali puser di sini lebih bermakna pada akal dan pikiran, hehe…)

“Buruk gimana?” dengus Buyut. “Mang lu-lu pikir gue gak punya Tuhan, apa?”

“Bukannya gitu…” timpal Conni berusaha bersabar mendengar ucapan ketus si Buyut. “Kita udah lama temenan, jadi wajar kita mengkhawatirkan kamu itu.”

Buyut mendengus pelan, ia terdiam. Ia merasa bersalah berbicara seperti tadi, dan kenyataannya keempat orang tersebut memanglah sahabat-sahabat sejati bagi dirinya, dan apa yang diucapkan si Conni barusan sangat benar adanya.

“Kalo lu ngerasa gitu,” timpal Erri. “Yaa. Baguslah.”

Lipul hanya menganggguk-anggukan. Bukan apa-apa, jika ia ikut ngomong takutnya akan menjadi lain sebagaimana yang pernah terjadi saat di rumahnya Om Granito, maklum, kan dia gagap.

 “Gue,” ujar Buyut sesaat kemudian. “Cuman sedih aja, napa Fitri bisa kek gitu? Mutusin gue. Tapi, ya sudahlah. Kalo disuruh milih antara cinta dan persahabatan,” Buyut berpaling dan menatap satu per satu sahabat-sahabatnya. “Gue pilih lu-lu pada,” ujarnya dan kembali menerawang jauh ke angkasa sana. “Sahabat-sahabat gue.”

Erri, Rahab, Conni dan Lipul sama tersenyum senang, puas jika ternyata si Buyut tidak berpikiran sempit, dan walaupun tadi ia sempat berujar ketus namun pada akhirnya bisa mengerti dengan kekhawatiran mereka, itu sudah cukup sebagai pertanda jika persahabatan yang terjalin selama ini sangat mengambil peran yang positif.

Dan seharusnya, begitu itulah gambaran persahabatan semestinya. Saling mendukung satu sama lain, tidak saja dalam kesenangan dan kegembiraan namun juga di saat mana kesedihan dan duka mendera. Saling mengingatkan jika satu berbuat salah dan belajar memaafkan kesalahan satu sama lainnya. Belajarlah jujur pada diri lebih-lebih pada sahabat sendiri apalagi pada orang lain.

(……………………………………….no comment)

Buyut bangkit dari duduknya, gitar kesayangan ia panggul di belakang punggung. Dan kemudian melangkah setengah tak bergairah.

“Mo-mo ke ma—ne Yut?” tanya Lipul.

“Gue mo nenangin pikiran,” jawab Buyut tanpa berpaling.

“Woi,” seru Erri. “Jangan jauh-jauh. Habis asar kite mo balik pan.”

“Iyee, gue tau.” jawab Buyut lemah.

Erri, Rahab, Conni, dan Lipul sama mengawasi langkah si Buyut yang semakin jauh, menuju ke arah tepian pantai, hingga mereka tidak lagi melihat sosok si Buyut.

“Gak-gak ape-ape tuh?” tanya Lipul pada yang lain.

“Udah,” tepis Erri. “Gak usah terlalu khawatir, biar die nenangin diri sendirian.”

“Eeh, gue laper nih,” ujar Rahab. “Kite nyari sarapan yuuk!”

Erri, Conni, dan Lipul sama mengangguk setuju. Jadi keempat orang ini sama melangkah meninggalkan beranda villa tersebut.

(…smile you don’t cry... ouh wuhuu… smile you don’t cry… oouh goodbye… Fitri aku rapopo…)


Mari kita lihat si Fahmi dan si Nandar yang tengah menemui Om Granito.

“Ooh, jadi begitu ceritanya,” ujar Tante Selsa.

“Iya Nantulang,” jawab Fahmi. (Nantulang = Bibi, Tante)

“Tuh kan, Pa,” sahut Desy. “Papa, sih,” ujarnya cemberut, sementara Om Granito mengangguk-angguk memahami apa yang tadi dijelaskan oleh si Fahmi. “Main marah-marah aja.”

Fahmi telah menuntaskan tugasnya (asiik…) menyelesaikan kesalahpahaman Om Granito terhadap Rahab dan kawan-kawan, lebih-lebih pada si Lipul.

“Hmm… baiklah, Fahmi,” ujar Om Granito kemudian. “Kau pergilah bilang sama bos kau si Rahab itu. Jugak si—siapa itu yang bengak kali ngomongnya?”

“Lipul Tulang.”

“Haa, itu..” sahut Om Granito. “Kau bilang sama mereka; aku minta maaf, sebab salah paham. Yaa, pande-pande kaulah.”

“Olo Tulang,” jawab Fahmi. “Kalo gitu, Fahmi pamit dulu Tulang, Nantulang, Desy.” (Olo = iya)

“Eiih sudah sarapannya kalian?”

“Sudah Om,” jawab Nandar.

“Nunga Tulang,” jawab Fahmi pula. (Nunga  = sudah, udah)

“Ya sudah, hati-hati kalian,” ucap Om Granito.

 “Olo Tulang, mauliate, kami pamit dulu,” ujar Fahmi. (Mauliate = terimakasih)

“Mari Tante, Om, Mbak,” pamit si Nandar pula.

“Mari-mari,” sahut Tante Selsa dan Desy berbarengan, Om Granito mengangguk tersenyum.


Mari kita beralih pada si Buyut yang ingin menyendiri.

Buyut melangkah pelan di sepanjang pantai, sesekali ia menendang gundukan pasir yang dilewati. Pandangan matanya sayu dan kosong, meski tidak sekosong semalam, Buyut masih memikirkan kenapa sang kekasih memutuskan hubungan mereka, sebut saja begitu jika tidak mau dibilang sedih.

Terkadang ia berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam kemudian mendesah panjang, seakan-akan membuang semua ganjalan di dalam hati dan pikiran. Dan kembali melanjutkan langkahnya. Gitar kesayangan tetap ia panggul di punggung.

Setelah cukup jauh melangkah perhatiannya terpecah pada satu sosok berbulu hitam di ujung penglihatannya. Sepertinya Buyut mengenal sosok tersebut, dan ia memutuskan untuk menghampiri sosok berbulu hitam yang tengah duduk di atas hamparan pasir pantai menghadap ke arah lautan. Duduk mencangkung dengan posisi badan rendah dan seolah menyembunyikan kepala di antara lipatan kakinya.

Ahh, ternyata itu si gorila jantan yang belakangan sering dilihat si Buyut—si Toing. Sepertinya gorila tersebut dalam keadaan patah hati juga, alias galau melampau.

Buyut mendekati si gorila, tanpa merasa takut sedikit pun Buyut justru ikutan duduk di samping si gorila jantan—di sisi kiri. Si gorila jantan menatap Buyut, begitupun si Buyut menatap si gorila.

Entah bagaimana ceritanya, seolah sama memahami yang namanya perasaan sedih diputus pacar, kedua makhluk beda spesies itu sama kerutkan dahi dengan bibir sama-sama memble saling berhadapan. (Huahuahua… kompak banget euy gerakannya)

Buyut dan si gorila saling bersandar sisi kepala, satu sama lain, dan semakin terlihat aneh bin konyol, keduanya sama menangis terisak-isak.

“Kite senasib ye, Toing,” ujar Buyut di tengah tangisnya.

“A-hu ha-hu hua ahha,” sahut si gorila, juga di tengah ratapannya. (translet; wanita memang egois,)


Erri, Rahab, Conni, dan Lipul tengah sarapan di ‘Caffe Bu Sekar’, entah mengapa mereka memilih sarapan di sana, padahal mereka semua tahu jika sang pemilik kafe adalah wanita yang… ee-eehh sebut saja galak. (Gleckh…!) Namun, mungkin dikarenakan makanan ringan yang disajikan di sana luarrrr biasa enak. (Ekhemm…)

Tidak berapa lama Fahmi dan Nandar menghampiri mereka berempat. Fahmi menjelaskan permohonan maaf Om Granito pada mereka itu, mereka sama tersenyum dan tertawa lepas. Bahkan si Rahab dan si Lipul sama memeluk pria Batak tersebut. Dan tentu saja itu membuat mereka senang, senang tidak lagi dicurigai dan dituduh yang bukan-bukan. Tapi itu kan lebih tertuju pada si Lipul, lhaa si Rahab? Yaah, tentu saja pria itu juga, maksudnya tentang hubungan dia dengan gadis bernama Desy alias Desol.

Tiba-tiba di saat mereka tengah senang gembira suka-cita bla bla bla… itu, tahu-tahu Bu Sekar telah berdiri, berkacak pinggang di dekat mereka. Kontan saja keenam orang tersebut sama terdiam, kecut takut ciut bla bla bla… Mengingat si pemilik tergolong (maaf banget ya gan, he-he piissss..) galak.

“E-eeh, Tan—te,” ujar Rahab tertular penyakit si Lipul. “Ma-maaf Tan, kite gak sengaja, he-he keliwat seneng.”

“Tidak apa-apa,” jawab Bu Sekar tersenyum. (Laaah, kok?)

Mereka sama kaget, heran, bingung, bla bla blaa… menanggapi sikap pemilik kafe yang tahu-tahu berubah lembut, malah dengan senyum segala. Kontan saja mereka semakin pucat ketakutan, jangan-jangan ada sesuatu yang mengerikan dibalik senyum lembut itu.

Bu Sekar tentu saja bisa memahami tingkah keenam orang pengunjung kafenya tersebut, kembali sang pemilik kafe tersenyum sembari geleng-gelengkan kepala.

“Saya sudah mau nutup.”

“Lhoo…?” Keenam orang tersebut sama terperangah. Bukan apa-apa, ini kan belum malam, baru juga sekitar jam 1 siang, kenapa mesti tutup cepat?

“Eeh kenapa nutup cepet, Tan?” tanya Rahab.

“Ada acara; Musik Pantai. Saya dan anak-anak mau ke sana. Kalian tidak pergi?”

Tentu saja keenam orang ini sama gelengkan kepala sebab mereka tidak mengetahui akan acara yang disebutkan sang pemilik kafe. Bu Sekar tersenyum, ia maklum jika tamu-tamu kafenya itu tidak mengetahui perihal acara Musik Pantai tersebut.

“Dekat kok dari sini, hanya beberapa puluh meter saja. Kan mumpung masih di sini,” ujar Bu Sekar menerangkan. “jarang-jarang lhoo, ada acara seperti itu, makanya saya dan anak-anak akan ke sana”

“Hoo… boleh tuh!” ujar Erri pada rekan-rekannya.

“Ke sono, nih?” tanya Rahab meyakinkan.

“Yo wes,” ujar Conni.

“O-oke,” jawab Lipul.

Ya, gak ada salahnya menyaksikan acara yang pastinya ramai tersebut mumpung mereka masih di sana, bukankah rencananya mereka akan balik ke Jakarta sore nanti. Dan segera saja mereka meninggalkan kafe tersebut.

Bu Sekar tersenyum memandang pada mereka, dari arah belakang, kedua anak gadisnya menghampiri sang ibu, sama memandang pada Erri dan kawan-kawan.


***
...bersambung...
TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.

Jumat, 04 Desember 2015

Origin of Indonesia

#2. Mermaid alias Putri Duyung.


Salam Sahabat^^ .

Jumpa lagi dengan penulis (ekhemm…) dengan artikel yang bertujuan untuk mengingatkan—atau bahkan mengabarkan—soal mitologi yang ada di bumi Nusantara tercinta ini. Dan ini adalah artikel kedua dari penulis tentang hal mitologi Nusantara tersebut.

Artikel kedua ini, penulis ingin—sedikit—mengulik soal; Mermaid, atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama; Putri Duyung.

Mermaid dalam Mitologi Dunia.

Secara garis besar, Mermaid atau Putri Duyung digambarkan berwujud manusia—dalam hal ini wanita—dari kepala hingga ke pinggang, dan dari pinggang ke bawah berwujud ikan. Namun di sebagian wilayah di muka bumi, ada juga yang berwujud laki-laki, atau lebih dikenal dengan Merman alias Putra Duyung.

Mermaid berasal dari Bahasa Inggris Kuno (Mid-English) mere;  yang berarti laut—merujuk kepada air. Dan maid;  yang bermakna perempuan.

Mitos atau pun legenda soal si Mermaid ini hampir merata di seluruh penjuru bumi—kebudayaan. Mulai dari Timur Dekat (negara-negara Asia bagian barat daya), Eropa, Afrika, bahkan Asia—termasuk Indonesia.

Mermaid pertama kali muncul dalam kebudayaan Asiria Kuno—Dewi Atargatis. Bahkan, hingga sampai saat ini—terakhir kali kemunculannya di Israel, dan ini mendapat banyak tanggapan, baik pro maupun kontra. Selengkapnya, baca di sini…

Hingga tahun 2012, para ilmuan tidak dapat menemukan bukti nyata keberadaan Mermaid itu sendiri—selain dari cerita mulut ke mulut, atau kesaksian segelintir orang yang—mengaku—melihat namun tanpa bukti konkret yang dapat mendukung. Hingga, makhluk seperti Mermaid dan lain sebagainya—Human-Animal Hybrids, digolongkan ke dalam Crypto yang berarti; yang tersembunyi. Atau, UMA—Unidentified Mysterious Animals.


Oke^^ cukup sampai di sana pembahasan si Mermaid, kalau masih penasaran silakan mengunjungi blog salah seorang sahabat, Ryan Mintaraga—Mitos Putri Duyung, Antara Masa Lalu dan Sekarang. Di sana, Mas Ryan membahas habis soal si Mermaid.

Nah… sekarang mari kita bahas soal si Putri Duyung. Lhaa, emang apa bedanya ma si Mermaid? Hahaha… tenang, kalo Mermaid, itu bule, nah kalo Putri Duyung berarti asli Indonesia doong, hee…


Putri Duyung, Origin of Indonesia.

Sejauh ini, ada dua cerita rakyat yang penulis ketahui—selain dua cerita lainnya yang akan penulis jabarkan setelahnya.

1. Wandiu Diu dari Sulawesi Tenggara.

Mungkin, cerita rakyat yang satu ini lebih tepatnya disebut; Asal-usul Putri Duyung. Diceritakan; seorang wanita yang memiliki tiga anak, namun memiliki suami bertemperamen buruk. Hingga sang wanita merasa hidupnya cukup menderita. Dan derita itu semakin bertambah kala anak bungsunya meminta lauk yang disimpan sang bapak. Karena kasihan, sang ibu memberikan lauk itu, sebab sang anak merengek tak berhenti. Sang suami yang mengetahui itu menjadi murka, marah besar.

Singkat cerita, sang ibu akhirnya memilih untuk “mengadukan” hidupnya pada laut. Tiga orang anaknya mencari di mana ibu mereka menghilang, saat tiba di tepian pantai, si sulung berteriak memanggil-manggil. Dan muncullah sang ibu dari dalam laut demi menyusui anak bungsunya.

2. Si Peminta Tumbal dari Tanjung Batu/Kundur.

Jika boleh penulis memberi pengandaian, Wandiu Diu adalah ujud Putri Duyung yang baik. Maka, Putri Duyung yang satu ini mungkin yang jahat, sebagaimana yang digambarkan oleh si Penjelajah Terkenal—Christopher Columbus.

Di Pulau Kundur - Tanjung Batu, Kepulauan Riau tersebut, diceritakan; jika ada warga yang berniat membangun satu pelabuhan atau dermaga, selalu diganggu oleh si Putri Duyung yang satu ini. Konon katanya, dia meminta tumbal terlebih dahulu untuk pembangunan itu. Entahlah, ini penulis ketahui saat penulis merantau di daerah itu.

Menurut beberapa orang tua—yang mengaku pernah melihat ujudnya—Putri Duyung di sana tidaklah cantik, atau baik rupanya. Lebih pada menakutkan.


-> Selain dua cerita rakyat di atas, penulis juga pernah mendengar cerita Putri Duyung yang juga berasal dari wanita—manusia, dari Tanah Jawa. Tapi sayangnya, penulis lupa dari daerah yang mana satu, atau pun kerajaan yang mana.

Diceritakan; seorang putri yang dipaksa menikah oleh orang tuanya hidup dengan bersusah hati. Sampai saat pernikahan, dan hujan turun dengan lebatnya, hingga terjadi banjir. Sang putri akhirnya membiarkan dirinya hanyut, saat mempelai pria dan keluarga mencari-cari sang putri, saat itulah sang putri menampakkan ujudnya ke permukaan.

Masih dengan mengenakan pakaiannya, sang putri mendekati orang tuanya, hanya saja, kain batik yang melilit tubuh bagian bawahnya telah menyatu dengan tubuh. Hingga, yang terlihat bukanlah kain ataupun kaki manusia, tapi ujud setengah ikan.

(Jika ada masukan lebih konkret soal cerita Putri Duyung dari Tanah Jawa ini, akan sangat penulis hargai sebagai pembelajaran bersama^^)


Putri Duyung dalam Pengalaman Pribadi.

Mungkin ada baiknya penulis katakan terlebih dahulu; lebih baik lewatkan saja bab yang ini, sebab ini akan terlihat/terbaca sebagai satu kisah imajinasi dari penulis sendiri. Untuk itu, bila tidak berkenan, silakan di-skip saja^^. Namun, bila penasaran—soalnya ada beberapa orang yang penulis ketahui sangat penasaran—silakan simak cerita di bawah ini.

Tahun 1995, kala itu penulis masih duduk di bangku SMP kelas 2. Baru memasuki catur wulan pertama—saat itu sistem pendidikan memakai cawu bukan semester, beberapa minggu sebelum perayaan 50 tahun Indonesia Emas. Hari apa, penulis sungguh lupa, tapi itu antara hari senin, selasa, rabu, atau kamis. Soalnya, kala itu kami—murid-murid—mengenakan baju putih-biru. Sementara hari jumat mengenakan baju Teluk Belanga—di Jakarta kayaknya lebih dikenal dengan Baju Koko—dan sabtu mengenakan pramuka. Jadi, penulis cukup yakin antara hari senin hingga kamis itu kejadiannya.

Penulis bersekolah di SMPN-01 Tanjung Mutiara, Tiku – Sumatera Barat. Bangunan sekolah kami berada sangat dekat dengan bibir pantai, hanya dipisah muara selebar 20-40m, saja. Dan di Pasie itu juga tempat berlangsungnya bongkar-muat kapal-kapal ikan ataupun sampan-sampan nelayan. Pasie berarti pasir, namun kata itu digunakan penduduk setempat untuk merujuk; pantai.

Pagi itu, baru memasuki pelajaran jam pertama, kami mendengar sorakan/teriakan beberapa orang dari arah pantai. Kurang-lebih berbunyi seperti ini;

“Bagan dapek Duyuang, bagan dapek Duyuang…”

(Bagan—kapal besar penangkap ikan yang sisi kiri-kanannya memiliki sayap—dapat Duyung, bagan dapat Duyung…)

Awalnya, kami yang mendengar suara-suara itu beranggapan duyung yang tertangkap itu adalah mamalia laut yang bernama sama; Duyung atau Dugong. Jadi, penulis dan kawan-kawan tidak terlalu menganggap teriakan tersebut, begitu juga dengan guru yang sedang mengajar.

Namun sepertinya kehebohan di pantai semakin intens, hingga sejumlah murid dan guru dari kelas berbeda juga ikutan berteriak yang sama. Mau tidak mau, tentu saja hal tersebut membuat penasaran bagi yang lain. Penulis dan teman-teman juga guru segera saja berlarian ke arah pantai.

Di pantai, telah banyak orang-orang yang berkerumun, mengitari sesuatu. Saat itu, kondisi laut sedang pasang bebani—kondisi di mana air laut tidak pasang tidak pula surut, sehingga permukaan laut tidak terlalu bergelombang dan biasanya menjadi sangat jernih. Biasanya, terjadi sekali dalam sebulan.

Dalam kondisi itu, kedalaman muara tidaklah terlalu dalam, hanya sebatas lutut. Sehingga dengan mudah kami menyeberang menuju keramaian di pantai.

Sesampainya di tengah keramaian, ternyata bukan duyung si mamalia laut yang tertangkap kapal bagan tersebut, melainkan benar-benar Putri Duyung. Bahkan, penulis langsung saja merangsek mengambil posisi sangat dekat dengan makhluk indah tersebut.

Sungguh, itu pengalaman luar biasa yang tak terhingga, sejak kecil, penulis selalu suka dengan dunia fauna—biologi, dsb. Hingga, penulis memberanikan diri menyentuh pinggul si Putri Duyung dengan jari. Siapalah tahu, mungkin saja itu hasil karya seni entah oleh siapa, meskipun tahun itu rasa-rasanya tidak atau belum ada alat untuk membuat karya seni seindah itu.

Saat jari penulis menyentuh sisi pinggulnya, ternyata itu benar-benar sisik—sebagaimana sisik ikanmas, namun dengan ukuran sisik lebih lebar dan besar—berlendir, dan amis sebagaimana ikan.

Mungkin, ini mungkin, karena tidak pernah terpapar sinar matahari secara langsung, hingga si Putri Duyung terlihat megap-megap, sulit untuk bernapas. Dan lagi, ia tidak mengenakan apa pun untuk menutupi payudaranya. Oleh karena yang menyaksikan itu tua-muda, besar-kecil, pria dan wanita, para anak-ula (bahasa Indonesianya; anak-ular, adalah istilah untuk ABK) menutupi payudara si Putri Duyung dengan rambut hitamnya yang panjang—kira-kira sepinggul jika dia memiliki kaki.

Jika boleh penulis ungkapkan, hingga sekarang, tidak ada satu pun wanita secantik itu. Kulit kuning langsat, mata besar hitam dengan bulu mata tebal lentik, begitu juga dengan alisnya. Wajah oval, hidung kecil tapi runcing, bibir merah tipis. Sungguh, dari pinggang ke atas bentuknya tak ubah gadis remaja yang sangat cantik, sedang dari pinggang ke bawah—pas di bawah pusar—berbentuk ikan dengan warna hijau muda terang kekuningan. Hmm… seperti warna hijau stabilo.

Coba tebak?

Ternyata bukan hanya Putri Duyung saja, tapi ada juga Putra Duyungnya. Sayangnya, yang pria hanya mengawasi kami dari sisi kapal—lebih-kurang 30m ke arah laut. Jadi, penulis kurang bisa mengingat wajah Putra Duyung itu, lagi pula ia hanya menampakkan kepalanya saja.

Menurut cerita sang kapten kapal—yang kebetulan adalah Abang sepupu penulis, Bang Iwir. Dan kapalnya atau bagannya diberi nama; Bagan Si Api-api—mengambil nama salah satu daerah penghasil ikan laut terbanyak di Riau. Menurut Bang Iwir, malam tiga hari sebelumnya saat mereka berangkat melaut, mereka tidak mendapat seekor ikan pun, walau bahkan hampir mencapai wilayah Mentawai.

Karena—sudah menjadi kebiasaan—perbekalan yang hanya untuk tiga hari hampir habis, Bang Iwir memerintahkan abk-nya untuk putar balik saja, sebelum terlalu jauh ke laut lepas, bisa-bisa kehilangan arah. Saat itu, penulis sangat yakin tidak ada nelayan di Tiku yang menggunakan kompas alih-alih GPS, mereka hanya mengandalkan ilmu kuno, membaca letak bintang. Dan sama diketahui bila pantai barat Sumatera adalah laut lepas, sebagaimana pantai selatan di Jawa.

Karena kesal tidak mendapat tangkapan—padahal biaya hidup tiga hari di laut itu cukup mahal—Bang Iwir membiarkan saja abk-nya tetap menurunkan wariang—jaring, meski haluan bagan menuju pelabuhan.

Di sekitar Pulau Tengah dan Pulau Ujung, jaring yang terus terbentang di bawah laut seperti tersangkut atau menjaring sesuatu yang besar. Hingga, para abk bergegas untuk menaikkan jaring tersebut. Namun, alangkah kagetnya mereka ternyata yang mereka dapat adalah sepasang duyung—Putra dan Putri Duyung.

Mungkin, karena kodrat laki-laki lebih kuat dari wanita, hingga Putra Duyung akhirnya bisa terlepas, dan tertinggallah Putri Duyung yang masih meronta. Namun, hingga bagan berlabuh sang Putra Duyung tetap mengikuti bagan yang membawa Putri Duyung. Anehnya, sebelum kapal berlabuh, Bang Iwir tiba-tiba diserang kantuk yang teramat, hingga tertidur di atas bagan. Bahkan sampai Putri Duyung diturunkan abk ke tepian, Bang Iwir tetap saja tertidur.

Putri Duyung itu ditempatkan para abk di atas lapik—tikar—dari anyaman daun nyiur yang biasanya digunakan penduduk untuk menjemur ikan.

Ada yang unik dengan Putri Duyung tersebut, sisik-sisik di tubuhnya, sirip-sirip halus yang tumbuh juga di punggungnya, hingga ke sirip ekor, selalu berbunyi gemericik setiap dia bergerak. Tapi, dia terlihat lemah, mungkin kepanasan. Dan yang anehnya, bentuk sirip ekornya tidak sebagaimana gambaran yang banyak bertebaran. Yakni ekor dayung, ekor yang menyerupai Lumba-lumba atau Paus, bukan. Di mata penulis kala itu, ekor tersebut lebih mirip ekor gunting, sebagaimana yang dimiliki oleh ikanmas.

Sementara Bang Iwir masih tertidur di atas bagan, kami menikmati keindahan makhluk mengagumkan itu, dan sang Putra Duyung terus saja mengawasi kami dari perairan, selah-olah meminta—mungkin saja—pasangannya untuk dikembalikan.

Sayangnya, keberadaan Putri Duyung tersebut tidak sampai sepuluh menit di daratan. Bang Iwir yang tertidur tiba-tiba terbangun sambil berteriak kencang.

Menurut Bang Iwir—tentu saja penulis mengetahuinya setelah berada di rumah—Bang Iwir dalam tidurnya didatangi si Putra Duyung, padahal kala itu si Putra Duyung tengah berenang mengawasi kami di tepian.

Dalam mimpinya, si Putra Duyung meminta Bang Iwir untuk memerintahkan abk-nya melepas si Putri Duyung. Lebih-kurang seperti ini;

“Tologlah Angku lapehkan pasangan ambo tu. Kalau inyo diambiak, ambo jo sia lai?”

(Tolonglah Angku—sebutan takzim bagi laki-laki dewasa—lepaskan pasangan saya itu. Jikalau dia diambil, saya harus dengan siapa lagi?)

Hanya itu, dan Bang Iwir terbangun sambil berteriak, lantas dari atas kapal Bang Iwir berteriak lagi ke arah kami—lebih tepatnya kepada abk-nya.

“Hoii, alah tu, lapehkan lah baliau tu, baeko cilako awak dek e. Lapehkan…!”

(Hoii, sudah cukup, lepaskan saja beliau itu, ntar bisa celaka kita karenanya. Lepaskan…!)

Yaa, akhirnya, itu tadi. Tidak sampai sepuluh menit “kebersamaan” kami dengan si Putri Duyung, para abk kembali mengangkat tubuh si Putri Duyung membawanya kembali ke air. Begitu sampai di kedalaman sepinggang, makhluk cantik itu seolah menemukan dunianya. Ia membenamkan diri, kemudian muncul lagi, berenang mendekati sang Putra Duyung yang juga mendekatinya. Dan penulis sangat yakin sekali, semua orang kala itu sama melihat keduanya tersenyum.

Kemudian, keduanya memandang ke arah kami yang bengong saja memandang mereka berdua. Baik Putri juga Putra Duyung sama melambaikan tangan pada kami. Konyolnya lagi, entah kenapa kami semua justru balas melambai ke arah keduanya.

Dan setelah itu mereka menghilang. Hingga sekarang, tak lagi terdengar keberadaan mereka.

Namun ada keajaiban yang terjadi pada Abang sepupu penulis tersebut. Setelah kejadian itu, selama tiga kali pelayaran berturut-turut, bagan Bang Iwir selalu mendapat hasil tangkapan yang boleh dibilang luar biasa melimpah. Bayangkan, dari hasil tiga kali pelayaran itu, Bang Iwir bisa membeli mobil pick-up L300, dan dua motor Hondapro kala itu.

Entah itu ada hubungannya dengan sikap baik Bang Iwir yang akhirnya melepaskan sang Putri Duyung, atau ada pengaruh lain, entahlah… yang jelas, kebaikan pasti berbuah kebaikan pula.

Sayangnya, entah kenapa kala itu tidak ada yang berpikiran untuk mengabadikan itu semua dengan foto. Yaa, akan lain ceritanya bila itu terjadi di zaman sekarang, di mana narsis menjadi hal yang mutlak, dan itu berarti gadget canggih, kamera digital, dll. Dulu, itu semua belum ada. Kamera aja masih yang model jadul, menggunakan klise/film—pakai diputar pulak bila habis diklik. Itu pun setiap nelayan setempat belum tentu punya.

Hahh… seandainya…

Oh iya, meski sampai sekarang penulis masih “merekam” wajah dan bentuk sang Putri Duyung dalam ingatan, namun penulis tidak bisa menggambarkan/melukiskan secara tepat kecantikannya, mungkin karena bukan pelukis handal hahaha. Tapi, bentuk tubuhnya kurang lebih seperti gambar ilustrasi yang penulis buat di atas^^.

Sedikit hal tentang kebiasaan masyarakat di kampung penulis itu. Dibilang mereka percaya hal-hal mistis, iya. Tapi tidak ada yang terlalu mengacuhkan hal-hal demikian. Pernah suatu hari, penulis memancing di sungai dan mendapat seekor ikan gabus (bahasa di sana; Kiuang, atau Rutiang) dan itu cukup besar—lebih besar dari paha penulis kala itu. Seorang tua yang penulis temui di tepian sungai itu berkata; “Lepaskan saja, sebab, mungkin itu penunggu,”

Intinya, dalam hal menangkap/memancing ikan contohnya, jika yang didapat itu lebih besar dari ukuran normalnya, maka mereka akan melepaskannya kembali. Bayangkan jika tim Mancing Mania, yang mendapatkan ikan tersebut. Jelas mereka akan bersorak girang sambil bilang; “Monster, mantap…!”

Entah sikap penduduk itu adalah bentuk kearifan lokal—dalam hal ini menjaga kelestarian ikan-ikan di sungai—atau ada hal lain. Entahlah.


Bagaimana, sahabat? Bukankah itu terdengar seperti cerita yang sengaja dirangkai demi tujuan tertentu?^^

But, I see what I see. Believe it or not, it’s depending on your mind. Yaa, mungkin saja sahabat akan berkata; ahh, itu imajinasi kamu aja yang kelewat tinggi.

Mungkin juga^^. Tapi, itu imajinasi dan mimpi terindah yang penulis dapat dari Sang Penguasa Keindahan. Dan juga, setiap kali penulis menceritakan kisah ini kepada saudara-saudara Nusantara dari Indonesia Timur, mereka justru menanggapi seolah melihat Putri Duyung itu adalah sesuatu yang biasa. Terutama bagi nelayan dan pelaut dari Indonesia Timur tersebut. Waallahu a’lam.

Sejatinya, manusia akan mempercayai/meyakini sesuatu jika ia sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri, bukan dari cerita bukan pula dari kabar tak berbukti^^.

Tapi, jika sahabat bertanya kepada penulis; Apakah Putri Duyung itu nyata? Maka, penulis akan menjawab; Hell, yeah.

Jadi… sebelum jauh mengagumi si Mermaid bule, ada baiknya bukan, mengagumi Putri Duyung? The Origin Mermaid from Indonesia^^.

Jumpa lagi di artikel ketiga, dengan mitologi lainnya.


Salam Indahnya Negeriku.


Dari berbagai sumber.

TULISAN INI PERTAMA KALI DIPUBLIKASIKAN DI WWW.KOMPASIANA.COM COPASING DIIZINKAN DENGAN MENYERTAKAN URL LENGKAP POSTINGAN DI ATAS, ATAU DENGAN TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT AMARAN INI.
Sumber ilustrasi; karya pribadi.